RSS

Hukum Gaji Isteri untuk Suami

02 Dis

Ustadz, saya mau tanya mengenai status pendapatan istri. Istri bekerja dan gajinya digunakan untuk menutupi kekurangan gaji suami. Tapi, pendapatan lain suami di luar gaji ia pegang sendiri, dan istri tidak berhak. Sementara, gaji suami masih kurang untuk menutupi kebutuhan istri, apa hukumnya bagi suami.

Bolehkah istri menyimpan pendapatanya untuk kepentingan keluarga istri. Dan siapakah  yang berkewajiban menafkahi anak istri/anak tiri suami?

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jawaban

Kewajiban memberikan nafkah keluarga

Islam mewajibkan seorang suami untuk memberikan nafkah kepada keluarganya sesuai dengan batas kemampuannya, berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an, Sunnah dan ijma para ulama :

1. Firman Allah swt,”..Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al Baqoroh : 233)

2. Firman Allah swt,”Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (QS. Ath Thalaq : 6)

3. Sabda Rasulullah saw,”Berilah dia (istrimu) makan tatkala kamu makan, berilah dia pakaian tatkala kamu berpakaian..” (HR. Abu Daud)

4. Adapun ijma; dikarenakan umat telah bersepakat dalam hal ini.

Nafkah di sini adalah memenuhi kebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, pembantu rumah tangga, perabotan, dan pengobatan istri ketika sakit.

Pemberian nafkah ini adalah menjadi hak yang harus diterima seorang istri yang telah diikat dengan ikatan perkawinan yang sah dan telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada suaminya. Maka ketika haknya tidak dipenuhi oleh suaminya sementara ia mempunyai kemampuan dan kesanggupan sungguh ia telah berlaku zhalim terhadapnya.

Adapun besaran dari nafkah yang harus diberikan seorang suami kepada keluarganya sangatlah tergantung kepada kemampuan si suami. Semakin tinggi kelas ekonominya maka ia harus semakin memberikan kelayakan hidup bagi keluarganya dan sebaliknya ketika suami memiliki tingkat ekonomi yang rendah maka si istri juga harus bisa memahaminya tanpa harus menuntutnya dengan sesuatu yang diluar batas kemampuan dan kesanggupannya.

Sedekah Istri kepada Suami

Pada dasarnya tugas seorang wanita (ibu) adalah di rumahnya memberikan pelayanan terbaik buat suaminya, mendidik anak-anaknya dan mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi terbaik umat ini. Tugas yang tidak bisa dilakukan kecuali melalui tangan seorang ibu. Pekerjaan ini tidaklah kalah beratnya dengan suaminya yang keluar mencari nafkah. Pekerjaan yang membutuhkan keseriusan, ketelatenan, kecerdasan dan keistiqomahan serta tidak ada batas waktu kerja melainkan full 24 jam berbeda dengan pekerjaan seorang suami di luar rumah.

Untuk itu wajar ketika dikatakan bahwa ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya, ibulah yang mencetak karakter dan sifat seorang anak, menanamkan pola fakir dan akhlaknya serta memberikan dasar-dasar ketahanan didalam dirinya untuk mengarungi masa depannya.

Namun demikian bukan berarti seorang wanita dilarang (diharamkan) menurut syariat bekerja di luar rumah karena pada dasarnya asal segala sesuatu itu mubah (dibolehkan) ketika tidak ada keterangan dari syara’ yang melarangnya.

Terkadang wanita dituntut bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, seperti jika dia seorang janda yang mempunyai anak-anak yang masih kecil, atau ia hidup sebatang kara, penghasilan suami yang tidak mencukupi kebutuhan harian keluarganya meskipun dia sudah menghabiskan waktunya untuk itu, atau membantu orang tuannya yang sudah tua dan lainnya.

Atau terkadang lapangan pekerjaan di masyarakat yang membutuhkan para wanita, seperti guru wanita untuk anak-anak wanita, perawat, bidan, dokter kandungan dan lainnya. Setiap wanita yang bekerja di luar rumah juga dituntut untuk tetap bisa menjaga diri dan kehormatannya serta menghindarkan hal-hal yang bisa menjatuhkan dirinya ke dalam fitnah.

Adapun penghasilan yang didapat seorang istri dalam pekerjaannya adalah hak dia sepenuhnya dan dia berhak membelanjakannya sesuai dengan keinginannya. Tidak dibolehkan bagi seorang suami untuk terlalu intervensi didalamnya akan tetapi diperbolehkan baginya memberikan pertimbangan dan menasehatinya manakala ada kesalahan dalam membelanjakannya.

Seorang suami tidak berhak melarangnya untuk berinfak dan bersedekah kepada siapapun yang dikehendakinya atau membelanjakannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Namun demikian si istri tetap dituntut untuk bijak didalam membelanjakan dan mensedekahkan harta tersebut. Ia juga harus bisa menentukan skala prioritas didalam membelanjakannya janganlah dia mendahulukan sesuatu yang komplemen dari pada yang sekunder atau yang sekunder daripada yang primer.

Sebagaimana ditunjukan didalam sebuah hadits saat datang Zaenab istri Ibnu Mas’ud ke rumah Rasulullah saw dan meminta izin dari beliau saw. Dikatakan kepada Rasulullah saw, ”Wahai Rasulullah saw ini Zaenab.” Beliau saw bertanya, ’Zaenab yang mana?’ Dijawab, ’istrinya Ibnu Masud.’ Beliau saw berkata, ’Ya silahkan.’ maka diizinkanlah dia untuk masuk. Dia bertanya, ’Wahai Nabi Allah, pada hari ini engkau memerintahkan untuk bersedekah. Aku mempunyai perhiasan dan aku ingin sedekahkan sedang aku melihat bahwa Ibnu Masud dan anaknya lebih berhak untuk menerima sedekahku.’ Kemudian Nabi saw bersabda, ’Ibnu Mas’ud suamimu dan anak lelakimu lebih berhak untuk menerima sedekah.” (HR. Bukhori)

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

 
2 Komen

Posted by di 2 Disember 2008 in FIQAH ISLAM, SOAL JAWAB AGAMA

 

2 responses to “Hukum Gaji Isteri untuk Suami

  1. Ila Chandurie

    14 Mac 2012 at 9:29 PM

    Isteri bekerja untuk manolong suami, tapi si suami semacam mengharap duit isteri sepenuhnya, sedangkan duit kerja si suami hanya untuk membayar hutang yg tidak sepatutnya. Si suami pula selalu guna duit isteri dan menyuruh mengeluarkan simpanan semata-mata untuk membayar hutang si suami. Jika si isteri tidak mahu keluarkan, si suami mengatakan si isteri berlagak, kerana ada duit, sedangkan duit yg ada adalah untuk waktu ketika betul2 susah dan untuk anak2. Si suami juga sanggup mengeluarkan ingin mentalakkan isterinya,kerana si isteri tidak mahu menolongnya. Apakah hukum nya ya ustaz kes seperti ini.

    sekian, wassallam

     
  2. dupahang

    15 Mac 2012 at 9:13 AM

    Assalamualaikum wrt. wbt.
    Seorang Isteri berkerja untuk membantu suami adalah sikap yang terpuji disisi Islam.
    Walaubagamanapun keizinan suami membenarkan seisteri berkerja untuk membantu ekonemi rumahtangga tidaklah diwajibkan, kerna menyara kelurga adalah tanggungjawab seorang suami dan bukan nya isteri.
    Apabila seorang Isteri berkerja dengan izin suami maka bukan bererti suami berhak sepenuhnya untuk mengambil wang milik Isteri yang berkeja, ulamak fiq menyatakan haram seorang suami mengambil wang Isterinya tampa izin dan reda Isteri apatah lagi mengunakan wang isteri untuk menyara keperluan rumahtangga, hanya sunat bagi Isteri mengeluarkan wangnya membantu ekonemi rumahtangga.
    Haram seorang suami mengugut untuk mentalakkan Iseteri kerana permasalahan tersebut.
    Nasihat saya berbincanglah dengan sebaik mungkin dengan suami, atau jika sikap suami masih seperti itu bertemulag dengan org yang dihormati oleh suami minta pandangan dan nasihatnya.

    Terima kasi puan kerna bertanya

     

Tinggalkan Jawapan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers

%d bloggers like this: