RSS

Category Archives: SINAR JUMAAT

AMALAN SUNNAH DI AKHIR TAHUN?.

AMALAN SUNNAH DI AKHIR TAHUN?.

Setiap kali menjelangnya akhir tahun kita sering diperingatkan dengan amalan-amalan tertentu yang dianjurkan supaya kita melakukannya. Mesej juga bertalu-talu dihantarkan dari seorang sahabat untuk sahabat yang lain memperingatkan hal ini. Keperihatinan ini seolah-olah ia merupakan satu tuntutan yang wajib atau sunnat Muakkad. Mereka menganjurkan amalan-amalan seperti berdoa dengan doa yang khusus di akhir tahun sebelum maghrib dan diikuti dengan doa awal tahun apabila menjelangnya waktu Maghrib.

Persoalannya adakah amalan ini merupakan sunnah Rasulullah SAW yang sangat diambil perhatian oleh baginda?

Agak sukar untuk menjawab persoalan ini kerana saya tidaklah merupakan seorang pengkaji sunnah tetapi hanya meneliti beberapa kitab sahaja. Di dalam kajian saya, saya tidak menjumpai adanya doa khusus atau amalan khusus yang diamalkan oleh baginda di akhir dan awal tahun, tetapi saya berpendapat amalan berdoa tersebut bukanlah satu kesalahan kerana kita memang dituntut untuk berdoa sepanjang masa, ia termasuk di dalam perintah yang umum. Yang salah ialah jika kita menyandarkan sesuatu amalan itu kepada Rasulullah SAW sedangkan tidak ada nas yang mensabitkannya. Baginda melarang keras perbuatan tersebut sehingga beliau menyebut dalam satu sabdanya yang bermaksud: “Sesiapa yang segaja mendustaiku maka sediakanlah tenpatnya di dalam neraka” (Na’uuzubillah)

Semasa saya belajar dahulu di Syria dan di Mesir apabila tibanya akhir tahun kebanyakan ulama’ mengajak muslimin dan muslimat supaya bermuhasabah terhadap amalan yang dilakukan sepanjang tahun tersebut.

(sesiapa yang ada menjumpai mana-mana kitab yang membincangkan masalah ini tolong maklumkan untuk manfaat bersama)

Wallahua’lam.

Ust Khairul Azmi
 
Tinggalkan komen

Posted by di 26 Disember 2008 in SINAR JUMAAT

 

Wanita menziarahi Kuburan

Pendapat Ulama Tentang Hukum Wanita Berziarah Kubur

Dari ibnu Buraidah dari ayahnya berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka ziarahilah.” (HR. Muslim).

Didalam riwayat Abu Daud ditambahkan,”..Sesungguhnya ia adalah peringatan.” Didalam riwayat al Hakim disebutkan,”Ia (Ziarah kubur) melunakkan hati, mengucurkan air mata, maka janganlah berkata kotor.” sedang didalam riwayat Tirmidzi disebutkan,”Maka sesungguhnya ia mengingatkan akherat.” Ia mengatakan,’Hadits Buraidah adalah hadits Hasan Shohih)

Para ulama bersepakat bahwa diperbolehkan bagi kaum laki-laki untuk berziarah kubur. Adapun bagi kaum wanita maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama :

1. Haram secara mutlak, baik menimbulkan fitnah, kemudharatan atau tidak, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata,”Rasulullah saw melaknat para wanita yang menziarahi kubur dan menjadikannya masjid dan memberikan penerangan diatasnya.” (HR. Abu Daud)

2. Haram apabila akan menimbulkan fitnah berdasarkan hadits dari Abdullah bin Murroh dari Masruq dari Abdullah dari Nabi saw bersabda,”Bukan dari kami orang yang menampar pipi, menyobek baju dan mencaci dirinya dengan cacian jahiliyah.” (HR. Bukhori)

3. Makruh, berdasarkan hadits dari Ummu ‘Athiyah berkata,”Kami dahulu dilarang untuk mengikuti jenazah, namun hal itu tidak dipastikan kepada kami.” (HR. Bukhori Muslim)

4. Boleh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ibnu Buraidah dari ayahnya berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka ziarahilah.” (HR. Muslim).

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa ziarah kubur bagi wanita adalah boleh dikarenakan para wanita termasuk didalam keumuman hadits diatas, selama tidak mengundang fitnah.

Pendapat ini dikuatkan dengan hadits Anas bin Malik ra berkata,”Bahwa Rasulullah saw melewati seorang wanita yang sedang menangis di sebuah kuburan. Beliau saw bersabda,’Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.’

Wanita itu mengatakan,’Sesungguhnya engkau tidaklah ditimpa musibah seperti yang telah menimpaku sehingga engkau tidak mengetahuinya.’ Dikatakan kepada wanita itu,’Sesungguhnya orang ini adalah Nabi.’ Maka wanita itu pun mendatangi Nabi saw dan ia tidak mendapati adanya para penjaga disisi Nabi saw. Wanita itu berkata,’Aku tidak mengenalmu.’ Beliau bersabda,’Sesungguhnya sabar adalah pada saat pertama kali mendapati (musibah itu).” (HR. Bukhori).

Hadits ini menunjukan bahwa nabi saw tidaklah melarang wanita itu duduk di kuburan dan taqrir (pengukuhan) beliau saw adalah hujjah (dalil).

Dan diantara orang yang membolehkannya secara umum bagi laki-laki maupun perempuan adalah Aisyah. Diriwayatkan oleh Hakim dari jalan Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya dia pernah melihat Aisyah menziarahi kuburan saudara laki-lakinya, Abdurrahman.”Aisyah ditanya,’Bukankah Nabi saw telah melarang hal ini.’Dia menjawab,’Ya, dahulu beliau saw pernah melarangnya kemudian memerintahkan untuk menziarahinya.” (HR. Baihaqi)– (Fathul bari juz III hal 180)

Telaah Beberapa Dalil Diatas

Imam Tirmidzi mengatakan,”Hadits Ibnu Abbas diatas yang diapakai sebagai dalil oleh mereka yang mengharamkan wanita berziarah kubur menurut sebagian ulama bahwa hadits itu terjadi sebelum adanya rukhshoh (keringanan) dari Nabi saw untuk ziarah kubur. Tatkala ada rukhshoh maka yang termasuk didalam rukhshoh ini adalah kaum laki-laki dan wanita.” (Aunul Ma’bud juz V hal 41)

Terhadap hadits pelaknatan yang digunakan oleh mereka yang mengharamkan ziarah wanita ke kuburan, maka disebutkan Ibnu Taimiyah bahwa telah datang riwayat dari Nabi saw melalui dua jalan :

1. “Annahu la’ana zuwarootil qubuur; artinya,’Bahwasanya beliau saw telah melaknat para wanita yang berziarah kubur.” dari Abu Hurairoh,”Annan Nabiyya la’ana zaairootil qubuur, artinya,’Bahwa Nabi saw telah melaknat para wanita yang berziarah kubur.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi dan dishohihkan olehnya.

2. Dan dari Ibnu Abbas bahwa ,”Rasulullah saw melaknat para wanita yang menziarahi kubur dan menjadikannya masjid dan memberikan penerangan diatasnya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, an Nasa’i, Tirmidzi dan dihasankan olehnya, didalam kitabnya yang lain dishohihkan olehnya serta diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah )

Disebutkan,”Hadits itu telah diriwayatkan dari dua jalan yang berbeda; satu dari Ibnu Abbas dan yang lainnya dari Abu Hurairoh. Orang-orang yang meriwayatkan didalam hadits yang satu bukanlah mereka yang meriwayatkannya pada hadits yang lainnya. Kedua kelompok tersebut tidak saling meriwayatkan dari yang lainnya. Didalam kedua sanadnya tidak ada orang yang diragukan karena berdusta.

esungguhnya pelemahannya hanya dari sisi buruknya hafalan. Dan dalam keadaan seperti ini tetap dianggap sebagai hujjah (dalil) yang tidak bisa diragukan. Ini adalah hasan yang paling baik yang telah disyaratkan oleh Tirmidzi, dia meletakkannya pada hasan dikarenakan banyaknya jalan dan tidak ada orang yang disangsikan didalamnya serta tidak menyimpang atau bertentangan dengan apa yang telah diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoh (dipercaya).”

Sedangkan pendapat dari mereka yang mengatakan bahwa ziarah wanita ke kuburan adalah makruh, yaitu Ahmad, Syafi’i dan para pengikutnya adalah bahwa hadits tentang laknat itu merupakan dalil terhadap pengharaman sedangkan hadits perizinan—Hadits Aisyah—menghilangkan pengharaman itu, sehingga yang tinggal adalah makruh.

Hal ini dikuatkan oleh Hadits Ummu ‘Athiyah ,”Kami dahulu dilarang untuk mengikuti jenazah, namun hal itu tidak dipastikan kepada kami.” (HR. Bukhori Muslim) Ziarah adalah bagian dari mengikuti jenazah maka kedua-duanya (menziarahi dan mengikuti jenazah) adalah makruh yang tidak diharamkan.

Sebagian dari ulama yang mengatakan makruh, seperti Ishaq bin Rohuyah, mengatakan,”Pelaknatan menggunakan lafazh az Zuwaroot, artinya; para wanita yang banyak berziarah. Maka jika hanya sekali berziarah dalam seumur hidupnya maka ia tidaklah termasuk dalam lafazh itu dan wanita tersebut tidaklah disebut dengan wanit yang sering berziarah. Mereka mengatakan,”Aisyah hanya berziarah sekali sehingga ia tidak disebut dengan wanita yang sering berziarah.” (Fathul ari juz XXIV hal 196 – 198)

Sesungguhnya hadits Anas tidaklah mengukuhkan ziarah wanita itu akan tetapi hanya memerintahkannya untuk bertakwa kepada Allah dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya dan meninggalkan apa-apa yang dilarang-Nya.

Secara umum hadits itu adalah pelarangan dari ziarah kubur. Beliau saw bersabda kepada wanita itu,”Bersabarlah.” Dan telah diketahui bahwa kedatangan wanita itu ke kuburan kemudian menangisinya adalah perbuatan meniadakan kesabarannya tatkala dia menolak nasehat dari Rasul saw dikarenakan belum mengenalinya dan Rasulullah saw pun berlalu darinya.

Kemudian tatkala wanita itu mengetahui bahwa yang memerintahkannya adalah Rasulullah saw maka dia pun mendatanginya dan meminta maaf kepadanya karena mengabaikan perintahnya. Jadi adakah dalil didalam hadits itu yang membolehkan ziarah kubur bagi kaum wanita?!

Pelarangan ziarah kubur yang kemudian dibolehkan—didalam Ibnu Buraidah—adalah pada awal-awal islam untuk menjaga keimanan, meniadakan ketergantungan dengan orang-orang yang sudah meninggal serta menutup jalan menuju kemusyrikan yang menjadi pangkalnya adalah mengagungkan dan menyembah kuburan.

Ibnu Abbas mengatakan,”Tatkala keimanan sudah kokoh bersemayam didalam hati mereka (kaum muslimin) dengan terkikisnya kemusyrikan dan terkukuhkannya agama maka mereka diizinkan berziarah kubur untuk menambah keimanan dan mengingatkannya terhadap apa yang telah diciptakan baginya berupa negeri yang kekal (akherat). Perizinan dan pelarangannya pada waktu itu adalah demi kemaslahatan.

Adapun bagi kaum wanita, meskipun terdapat kemaslahatan didalamnya akan tetapi ziarah mereka juga akan menimbulkan kemudharatan yang telah diketahui secara khsuus maupun umum, berupa fitnah bagi orang yang masih hidup atau menyakiti si mayit (karena tangisannya yang berteriak-teriak).

Kemudharatan ini tidaklah bisa dicegah kecuali dengan melarang mereka dari menziarahinya. Dalam hal ini kemudharatannya lebih besar daripada kemaslahatannya yang sedikit bagi mereka. Syari’ah tegak diatas pengharaman suatu perbuatan apabila kemudharatannya lebih kuat daripada kemaslahatannya. Kuatnya kemudharatan dalam permasalahan ini tidaklah tersembunyi maka melarang kaum wanita dari berziarah kubur adalah diantara perbuatan baik dalam syari’ah.“ (Aunul Ma’bud juz V hal 43)

Dengan demikian hukum bagi seorang wanita yang menziarahi kuburan adalah makruh yang tidak diharamkan selama tidak menimbulkan fitnah dan kemudharatan baik bagi diri sendiri seperti; menyingkap auratnya, berteriak-teriak, menangis dengan suara kencang, memukuli diri dan lainnya, ataupun membawa fitnah dan mudharat bagi orang lain, dan apabila hal ini terjadi maka ziarahnya menjadi haram.

Wallahu A’lam

Oleh ; Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 26 Disember 2008 in SINAR JUMAAT

 

Sejauhmana indahnya hubungan Islam dan Kristian?

Menjelangnya Hari Natal, saya teringat sebuah filem yang pernah saya tonton. Hassan wa Morkos (Hassan dan Marcus) adalah satu filem keluaran Mesir yang bersulamkan babak-babak dan watak-watak komedi.



Dan babak yang selebihnya berunsurkan isu-isu keagamaan yang bernada agak serius juga. Tapi, genre filem ini adalah komedi. Saya tidak tahu apakah hal ini disengajakan untuk mengelakkan berlakunya isu-isu kontroversi. Mungkin ini adalah salah satu strategi juga. Siapa tahu?

Filem yang terbit pada tahun ini mula ditayangkan November lalu sempena Kuala Lumpur International Film Festival (KLIFF). Tayangan filem-filem dari Arab, Mororco, Iran dan lain-lain negara Islam turut ditayangkan secara percuma di GSC Mid Valley dan GSC Pavilion Kuala Lumpur di Jalan Bukit Bintang. Tapi, antara kebanyakan filem, Hassan wa Morkos itulah yang benar-benar memikat jiwa dan mencabar pemikiran.

Filem ini mengungkap dilema yang terpaksa ditempuh oleh kedua-dua buah keluarga Muslim dan Kristian yang hidup dalam buruan pengganas di Mesir ekoran kegiatan keganasan yang terkait dengan gerakan al-Qaeda dan pengganas Kristian. Maka, atas nama keselamatan, mereka terpaksa menyamar dan kemudiannya bertukar agama olok-olok.

Ia adalah kisah mengenai seorang syeikh yang kuat pegangan agama dan kental spiritualnya. Saya lupa nama syeikh tersebut. Watak syeikh itu dipegang oleh pelakon terkenal yang pernah menempa nama di layar perak Hollywood, iaitu Omar Syariff. Untuk sementara, biarlah kita namakan dia sebagai Syeikh Omar.

Syeikh Omar ini, terpaksa melarikan diri daripada sekumpulan pengganas Muslim selepas adik lelakinya yang terlibat secara langsung dalam kumpulan pengganas telah mati dalam satu letupan dan serangan. Pada hari pengebumian adik lelakinya, teman-teman seperjuangan adik lelakinya telah datang menemui Syeikh Omar, memujuknya untuk kembali meneruskan perjuangan adiknya.

“Sekarang, tanggungjawab tuan untuk meneruskan perjuangannya,” kata tiga orang lelaki yang diutuskan menemui Syeikh Omar.

Bagaimanapun, Syeikh Omar menolak permintaan mereka itu. Penolakan itu menaikkan amarah di hati kumpulan tersebut. Selang tidak berapa lama, rumah syeikh Omar hangus dibakar. Beliau terus membuat penafian bahawa kebakaran di rumah mereka ada kaitan dengan kegiatan pengganas yang berdendam kepadanya.

Tapi, dengan ketibaan seorang pegawai polis tertinggi, Mokhtar Basya, akhirnya hal pihak pengganas yang berdendam dengan Syeikh Omar terdedah jua. Ekoran itu, Moktar Basya memberikan dokumen pengenalan diri yang baru kepada Syeikh Omar dengan nama Kristian, iaitu Morkos (Marcus). Termasuk seluruh keluarga Syeikh Omar turut diberikan nama dan identiti agama yang baru.

Paderi Baulus menukar namanya kepada Syeikh Hassan al-Attar
Di suatu sudut yang lain, seorang paderi merangkap guru besar dalam bidang teologi Kristian Goptik di Mesir turut menerima ancaman yang sama dalam muktamar antara penganut Muslim dan Kristian. Ugutan itu berlaku setelah Paderi Baulus (lakonan Adel Imam) melontarkan kecaman keras ke atas pengganas Kristian.

“Para penganut Kristian yang menggunakan kekerasan itu, bukanlah daripada kalangan kami,” tegas Paderi Baulus. “Gereja mengecam tindakan mereka yang melakukan keganasan ini atas nama agama.”

Selepas habis perhimpunan muktamar antara Muslim dan Kristian itu, dalam perjalanan pulang bersama anaknya, Paderi Baulus berasa ada sesuatu yang tak kena ke atas keretanya. Rupa-rupanya, ada rancangan membunuh daripada pengganas Kristian ke atas sang paderi ekoran kelantangannya dalam muktamar itu.

Sekali lagi, kes itu dirujuk kepada Mokhtar Basya, pegawai tinggi polis di Mesir. Akhirnya, di atas keselamatan nyawanya sekeluarga, untuk suatu tempoh tertentu, Paderi Baulus menggunakan nama Islam, Syeikh Hassan al-Attar, termasuk anak dan isteri beliau.

Banyak kisah jenaka yang berlaku dalam keluarga Syeikh Hassan al-Attar (Paderi Baulus) apabila mereka berpindah rumah. Paderi Baulus (dengan watak barunya Syeikh Hassan al-Attar) misalnya terpaksa ke masjid untuk menjawab permasalahan fekah penduduk setempat, hatta yang paling memenatkan ialah beliau terpaksa menjadi imam solat, termasuk solat Jumaat.

Akhirnya, Syeikh Hassan (Paderi Baulus) dan Morkos (Syeikh Omar) dipertemukan dalam sebuah rumah pangsa yang dimiliki oleh seorang Kristian. Maka, disitulah Morkos dan Syeikh Hassan mula mengikat tali persaudaraan sesama mereka, walaupun mereka berbeza identiti dan agama. Syeikh Omar (Morkos) menyangkakan Paderi Baulus (Syeikh Hassan al-Attar) adalah Muslim dan begitulah sebaliknya, Paderi Baulus menyangkakan Morkos seorang Kristian.

Melihat keakraban mereka, para penduduk sekitar perumahan itu tak menjangka bahawa penganut Islam dan Kristian akhirnya boleh tinggal sebumbung dan mereka boleh juga menjalankan urusan perniagaan roti bersama.

Satu babak yang paling menarik dan mungkin mencabar pemikiran kita ialah babak ketika mana Paderi Baulus (Syeikh Hassan al-Attar) dan Syeikh Omar (Morkos) mahu menunaikan ibadah menjelang masuknya waktu Maghrib. Mereka berpapasan keluar dari rumah, terus menuju ke sebuah masjid dan gereja yang berdekatan. Baik Syeikh Hassan dan Morkos menjadi serba-salah.

Morkos (Syeikh Omar) walaupun menyembunyikan keislamannya, tetapi ingin menunaikan Maghrib di masjid, walhal Syeikh Hassan al-Attar (Paderi Baulus) dan anak lelakinya Imad (nama Kristiannya, Girgis) ingin masuk ke dalam gereja. Akhirnya, mereka terpaksa menipu diri mereka sendiri. Paderi Baulus dan anaknya menyempurnakan amalannya di masjid manakala Morkos (Syeikh Omar) terpaksa berada di gereja ketika jemaah Muslim sedang menunaikan solat Maghrib.

Kedua-dua mereka tiada pilihan kerana terpaksa menyembunyikan identiti keislaman dan kekristianan masing-masing. Kalau watak agama mereka yang sebenarnya terbongkar, nyawa mereka dikhuatiri akan terancam. Morkos (Syeikh Omar) terpaksa berdoa dalam gereja menurut tatacara Islam. Dalam masa yang sama, Syeikh Hassan al-Attar (Paderi Baulus) terpaksa berdoa dalam masjid menurut tatacara Kristian.

Namun, karyawan filem nampaknya bijak menyusun keseimbangan antara kedua-dua jalur fikiran beragama. Misalnya, ketika babak watak Syeikh Hassan al-Attar tiba ke dalam masjid, ditunjukkan imam yang sedang membacakan Surah al-Ma’idah, ayat 82 yang bermaksud:-

“..Dan demi sesungguhnya, engkau akan dapati orang-orang yang dekat sekali kasih mesranya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: Bahasa kami ini ialah orang-orang Nasrani.” Yang demikian itu, disebabkan ada antara mereka pendeta-pendeta dan ahli-ahli ibadat, dan kerana mereka pula tidak berlaku sombong.”

Manakala Morkos (Syeikh Omar) pula, ketika keluar dari gereja terus bertanya Syeikh Hassan al-Attar (Paderi Baulus): “Katakan anda seorang Kristian, lalu anda berdoa dalam masjid, adakah doa anda diterima?” Lalu, sang paderi berkata:- (kalau tak salah ingatan saya..)

“Menurut Bible.. kitab suci pegangan saudara itu,” kata Paderi Baulus, “jika ada dua atau tiga orang di sekeliling kita, maka Tuhan tetap mendengar doa kita.”

Paderi Baulus lebih memahami hakikat kitab itu kerana beliau sendiri adalah guru besar dalam bidang teologi Kristian. Ringkasnya, nas-nas dan dalil-dalil dari al-Quran dan Bible ini turut disebutkan secara seimbang melalui kedua-dua penganut agama samawi lewat filem tersebut.

Rahsia mula terbongkar
Hubungan akrab yang terjalin mesra di antara kedua-dua buah keluarga itu akhirnya membenihkan bibit percintaan antara Imad (Girgis), anak Paderi Baulus (Syeikh Hassan al-Attar) dengan Fatima (Maria), iaitu anak kepada Morkos (Syeikh Omar). Namun, akhirnya, percintaan mereka terhalang setelah kedua-duanya mengetahui rahsia agama masing-masing.

Hubungan yang asalnya jernih antara kedua-dua keluarga mula menjadi keruh ekoran terbongkarnya rahsia antara kedua-dua buah keluarga tadi. Bagaimanapun, di akhir cerita, sebuah insiden kebakaran di rumah mereka akhirnya kembali meneguhkan pendirian mereka bahawa Islam dan Kristian itu sebenarnya lebih harmoni perhubungannya berbanding agama-agama lain seperti Yahudi dan paganisme.

Di hujung filem ini juga, babak-babak seterusnya diadun dengan menyiarkan khutbah para khatib dari atas mimbar dan ucapan para paderi di gereja yang menghasut para penganut kedua-dua agama samawi ini agar terus bersilang sengketa sesama mereka.

Pendek kata, Hassan wa Morkos berjaya mennyulam elemen komedi bersama unsur pemikiran yang berat untuk diketengahkan kepada penonton. Saya rasa puas hati dan berasa tidak rugi menonton filem ini.

Kekeruhan hubungan antara Islam dan Kristian, antara ideal dan realiti
Sejak peristiwa Perang Salib, kita tersasar menyatakan hubungan itu adalah ekoran perang antara Islam dan Kristian. Secara tepatnya, perang itu merupakan suatu perang mutlak antara Islam dan Yahudi.

Ini kerana, antara dalang dan tulang belakang kepada Institusi Beraja di Benua Eropah adalah golongan Knight Templar yang punya tatacara kefahaman baru yang langsung berbeza daripada tradisi amalan keagamaan Kristian.

Knight Templar, (juga dikenali sebagai Crusaders, yang kemudiannya dijenamakan sebagai Freemason) akhirnya telah memanjangkan tradisi Perang Salib di rantau Nusantara melalui cengkaman ksatria Knight Templar dari Portugis, iaitu Alfonso De Albuquerque di Melaka.

Secara ringkas, secara ideal, hubungan Islam dan Kristian memang suatu hubungan yang baik seperti yang digambarkan dalam al-Quran. Jika berlaku di sebaliknya, maka hal tersebut ada kaitan dengan jarum-jarum yang ditusuk Yahudi dan unsur-unsur daripada faham paganisme ke dalam jiwa kedua-dua penganut agama ini. Wallahu’alam..

1:51 a.m, 26 Disember
Sekolah pemikiran Kg Baru

Bantahan, teguran, kritikan, komentar boleh dimajukan lewat mel-e
<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy87322 = ‘ibnuamir’ + ‘@’;
addy87322 = addy87322 + ‘yahoo’ + ‘.’ + ‘com’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy87322 + ‘\’>’ );
document.write( addy87322 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n ibnuamir@yahoo.com
<!–
document.write( ‘<span style=\’display: none;\’>’ );
//–>
Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, anda perlukan Javascript enabled untuk melihatnya
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>
_

 
Tinggalkan komen

Posted by di 26 Disember 2008 in SINAR JUMAAT

 

Berhijrah

Setibanya Baginda di Madinah Berundurlah kekufuran yang nyata Kebenaran bersama mereka Dengan Islam yang bercahaya

Pada suatu malam, empat belas abad yang silam, sekelompok pemuda kafir Quraisy mengepung sebuah rumah di kota Makkah. Mereka ingin memastikan bahwa pemilik rumah itu tidak akan melihat terbitnya sang surya lagi esok pagi. Ya, mereka akan membunuhnya malam ini. Para pemuda itu satu persatu mulai menyelinap masuk ke dalam rumah. Perlahan mereka segera menuju ke sosok laki-laki berselimut yang sedang tidur di atas sebuah ranjang.

Setelah menyibakkan selimut tersebut, para pemuda itu terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang mereka temukan itu adalah Ali putra Abi Thalib yang sudah rela mempertaruhkan nyawanya sebagai perisai sang pemilik rumah, yang tak lain adalah Rasulullah SAW.

Pergi kemanakah Rasulullah saat itu? Menjelang larut malam, beliau ternyata sudah keluar menuju rumah Abu Bakar. Keduanya akan pergi ke Yastrib menyusul orang-orang beriman dari Makkah yang sudah berangkat terlebih dahulu. Mereka memilih arah Selatan menuju gua Tsur sebagai tempat persinggahan sementara untuk mengecoh kaum kafir Quraisy yang mengejar mereka tanpa kenal lelah. Betapa tidak, jika Muhammad berhasil menyebarkan agama baru yang diajarkannya itu di Yastrib, penduduk Makkah bisa ikut terpengaruh dan pada akhirnya eksistensi agama nenek moyang akan terancam. Hanya pertolongan Allah-lah yang menyelamatkan dua orang yang bersahabat karib itu dari segala marabahaya yang menghadang. Dan hanya atas izin Allah juga mereka akhirnya sampai di Yastrib dengan selamat.

Waktu sudah berjalan lebih dari 14 abad sejak peristiwa hijrah tersebut. Ini adalah umur yang cukup panjang untuk kelangsungan sebuah peradaban. Selama ini, Islam sudah mengalami banyak hal. Susah senang, maju mundur, serta timbul tenggelam. Kita tentu ingat bahwa kekhalifahan ummat Islam pernah menjadi negara adidaya yang disegani. Islam juga pernah memberi warna tersendiri pada tatanan kehidupan dan kebudayaan berbagai bangsa di muka bumi ini. Dunia kedokteran pun tidak akan pernah lupa akan kehebatan Ibnu Sina, ahli sejarah begitu mengakui kepiawaian Ibnu Khaldun, serta kejeniusan Jabir Ibnu Hayyan tidak diragukan lagi oleh ahli kimia sedunia. Tentu akan tertulis satu daftar panjang jika disebutkan bukti-bukti kegemilangan Islam yang lainnya.

Dan renungkanlah, bagaimanakah keadaan Islam sekarang? Apakah kejayaan itu masih berada di tangan kaum Muslimin?

Untuk mengingatkan kita, Imam Hasan Al Banna pernah mengatakan, “Sesungguhnya rahasia kemunduran ummat Islam karena jauhnya mereka dari ‘dien’ (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari perbaikan itu adalah kembali kepada pengajaran Islam dan hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja untuk itu.”

Sungguh kita tidak pernah menginginkan kemunduran Islam seperti yang pernah dikhawatirkan tokoh Mesir ini. Kita tidak ingin Islam dipandang sebelah mata lagi oleh dunia. Kita semua pasti mengharapkan izzah Islam bangkit lagi di bumi Allah ini. Kita ingin melihat Al Quran benar-benar dijadikan sebagai pedoman hidup sehari-hari oleh orang-orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan kita tentu ingin menyaksikan pengikut Muhammad ini benar-benar bersatu dalam ukhuwah Islamiyah yang solid.

Mengutip salah satu nasihat yang pernah disampaikan Aa Gym, “Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang kecil dan mulailah dari saat ini.”

Perjalanan panjang selalu dimulai dengan satu langkah kecil. Untuk menciptakan suatu perubahan besar tentu dimulai dengan mengubah hal-hal kecil yang menjadi komponen penyusunnya. Tegaknya Islam tentu dimulai dari hijrahnya kita -masing-masing pribadi Muslim- kembali ke jalan-Nya.

Dan janganlah tergelitik untuk menghadirkan tujuan-tujuan lain yang bisa menjauhkan kita dari jalan-Nya itu. Cukuplah Allah bagi kita sebagai tujuan yang tiada duanya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bahwasanya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia (harta atau kemegahan dunia), atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujuinya” (HR. Bukhari)

Wahai teman, memasuki lembaran ke-1426 H ini, hendaknya bisa kita jadikan sebagai salah satu momentum menghijrahkan diri menuju arah yang lebih baik. Mari kita tengok sejenak ke belakang untuk bermuhasabah dari setiap kejadian.

Apa saja yang sudah kita lakukan untuk memperkuat pilar-pilar Islam? Apakah Rukun Iman yang kita ucapkan cuma sekadar pengakuan tanpa bukti?

Apakah kita melaksanakan Rukun Islam hanya sebatas ritual tanpa makna?

Apa yang sudah kita lakukan sebagai hamba Allah? Dan yang tak kalah penting, apakah kita sudah menjadi orang yang beruntung di hadapan-Nya?

Bukankah orang beruntung yang dimaksud itu adalah orang yang pada hari ini lebih baik keimanannya daripada hari-hari sebelumnya?

Ya Allah, tunjukilah kami jalan lurus yang Engkau ridhai itu. Kami ingin berhijrah.

Sri Susanti
iko_5411@yahoo.com

 
Tinggalkan komen

Posted by di 19 Disember 2008 in SINAR JUMAAT

 

EIDIL `ADHA: Membuka Pintu Rumah dan Pintu Hati

Alhamdulillah, Sambutan menunaikan Fardu haji dan `Eidil Adha pada tahun ini dapat dilaksanakan oleh ummat Islam dengan penuh rasa `Ubudiyyah kepada Allah swt.

Hikmah dari peristiwa itu adalah terciptanya kebersaan antar ummat Islam. Paling tidak, perselisihan di kalangan ummat islam yang dipsahkan oleh kepentingan politik saat ini tidak semakin reda karena perbedaan `Eidil Adha . Situasi Isu semasa ummta Islam yang kembali panas menyedarkan ummat Islam kepentingan Ubudiyyah kepada Allah swt.

Bagi masyarakat pada ketika tertentu perbedaan pendapat, juga perbedaan politik dianggap sebagai hal yang wajar dan diterima sebagai suatu rahmat. Akan tetapi pada masyarakat kebanyakan, perbedaan pendapat itu sudah dianggap sebagai pemilahan. Saya di pihak sini, kamu di pihak sana. Jika dari hari ke hari perbedaan itu semakin tajam, akan jadi akan meningkat menjadi permusuhan.

Dulu perbedaan itu hanya sebatas pada ushalli, qunut, tahlil, dan masalah-masalah fiqhiyah lainnya. Tapi akhir-akhir ini perbedaan itu semakin bertambah. Setidak-tidaknya suasana kedatangan `Eidil Adha memberi nafas baru atas terjadinya perbedaan itu.

Ada pihak-pihak secara membabi buta memihak dan mendukung habis-habisan kepada golongan yang menangapkan permasalahan ushalli, qunut, tahlil, dan masalah-masalah fiqhiyah lainnya adalah perbuatan Bid`ah.

Peristiwa ini kembali mengingatkan kita pada masa-masa sesudah khulafa’ur-Rasyidin, terutama setelah pemerintahan Umayyah. Pada saat itu masjid telah dijadikan arena politik. Mimbar Jum’at dijadikan arena untuk saling menghujah antara satu kempulan dengan kempulan yang lain. Di dunia Syiber ketika ini tak kurang perdebatan hangat setiap ketika.

Untunglah pada ketika itu tampuk pemerintahan akhirnya bergilir kepada seorang khalifah yang amat bijaksana, yaitu `Umar bin `Abdul Aziz. Saat itu ia menyetop kegiatan adu domba yang dilaksanakan di masjid. Saat itu juga ia melarang mimbar Jum’at dipakai untuk menghujat lawan-lawan politiknya.

Atas inisatif Khalifah pula, pada akhir khutbah Jum’at selalu ditutup dengan membaca ayat berikut ini:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl: 90)

Tradisi yang baik itu diteruskan oleh para khatib hingga saat ini. Apakah khatib itu mengaku Sunni atau Wahabi, apakah adzan dua kali atau hanya sekali, akan tetapi ketika menutup khutbahnya selalu membaca ayat ini. Padahal tidak ada anjuran dari Rasulullah untuk membaca ayat itu pada setiap akhir khutbah.

Semestinya kesadaran untuk tidak saling memnuduh di antara kaum Muslimin telah merata di seluruh lapisan ummat. Perbedaan faham politik tidak seharusnya menjadikan kaum Muslimin terpecah belah. Perpecahan di kalangan umat Islam hanya menguntungkan musuh-musuh Islam saja. Sama sekali tidak membawa keberuntungan apa-apa, kecuali pemuasan hawa nafsu belaka.

Hujah-menghujah di antara kaum Muslimin semestinya telah dihentikan, apalagi jika dilakukan di masjid. Mimbar Jum’at, juga kelas pengajian harus menitib beratkan sikap permusuhan seperti itu. Tak pantas dan kurang selayaknya bila masjid yang suci dipakai untuk propaganda politik murahan, yang ujung-ujungnya adalah penyebaran fitnah, adu domba, dan pemutarbalikan fakta.

Untuk membincangkan segala problem ummat, termasuk problem negara di masjid tidak dilarang oleh ajaran Islam. Bahkan pada jaman Rasulullah, masjid telah dijadikan sebagai pusat segala aktivitas ummat, termasuk aktivitas politik. Akan tetapi pada saat itu musuh umat Islam sangat jelas, yaitu kaum kuffar. Karenanya politik yang diperbincangkan adalah

bagaimana memenangkan ideologi Islam dan mengalahkan musuh-musuhnya.

Sedangkan sekarang tidak demikian. Arah dan tujuan politiknya tidak secara jelas untuk Islam, tapi alat politik yang dipakai adalah Islam. Propagandanya di masjid dan pada acara-acara keislaman. Praktek seperti ini sama sekali tidak bisa dibenarkan, baik oleh logika akal sehat maupun agama. Bahkan kegiatan seperti itu merupakan pembodohan ummat secara sistematis. Dalam jangka panjang akan melahirkan berbagai kesulitan.

Seorang kahtib, ketika menutup khutbah Jum’at menukil ayat yang menganjurkan untuk saling mengajak kepada kebajikan dan meninggalkan permusuhan, tapi justeru setelah selesai Jum’atan diselenggarakan acara yang hampir sama untuk menebarkan fitnah dan permusuhan. Kegiatan semacam itu harus ditinggalkan dan diakhiri. Jangan diterus-teruskan. Sangat berbahaya dan mengancam persatuan.

Sudah saatnya dihidupkan kekuatan politik ummat Islam. Akhir-akhir ini ada gejala murtad berluasan, aneh di mana orang lebih cenderung melakukan dialog mencarai penyelesaianr ummat dan iman, sementara dialog permasalahan murtad diabaikan. Bahkan seolah-olah, berbaik-baikan dengan pihak di luar Islam itu lebih baik dan lebih beruntung dibandingkan dengan berdialog antar sesama ummat Islam.

Bukan berarti dialog antar ummat dan antara iman dan murtad itu tidak perlu. Akan tetapi mestinya saat-saat ini hubungan keimanan ummat sesungguhnya sedang dalam persoalan. Jika permasalahan permurtadan antara ummat itu tidak segera diselesaikan, dikhawatirkan akan berubah menjadi permusuhan. Jika hal itu sampai terjadi, penyembuhannya akan memakan waktu yang sangat panjang, disamping kemusnahan aqidah yang tidak sedikit.

Ini sama sekali bukan untuk menakut-nakuti, tapi sekadar sebagai peringatan, bagaimana sebaiknya jika hal itu benar-benar terjadi kepada keluraga kita . Oleh sebab itu, pada saat ini, di hari raya seperti ini ada baiknya jika dilakukan berbagai usaha dengan sedaya upaya, baik secara individual maupun secara jama’I untuk meningkatak hubungan silaturrahim antara Ummah.

Masih tersedia waktu yang cukup bagi para Ulama` Ustaz, yang menjadi rujukan massa untuk memberikan pengertian bahwa perbedaan itu wajar, bahwa pergantian persaudaran isalam, kepemimpinan dan politik itu juga merupakan kekuatan Umat islam, konflik kepentingan di arena politik itu normal. Justeru yang harus dikembangkan adalah sikap kritis, di samping lapang dada dan toleransi.

Momentum Qurbaan dan `Iedul Adha ini mestinya disergap oleh para tokoh dan pemimpin Islam untuk saling berdialog, bukan sekadar bermaaf-maafan. Sesungguhnya bermaaf-maafan itu merupakan proses akhir dari sebuah rekonsiliasi, tapi sebelumnya harus didahului dengan dialog intensif antar pihak-pihak yang berselisih.

Pertanyaannya sekarang, apakah saat ini telah terjadi perselisihan yang sedemikian mencekam, sehingga diperlukan rekonsiliasi?. jawabnya iya.

Sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan itu sesungguhnya hanya bisa dilakukan jika terjadi dialog yang dewasa. Masing-masing menyampaikan kebenaran yang disangkakan berikut dengan argumentasi, dalil `aqli dan naqlinya.

Jika pihak lain menyampaikan pendapatnya, pendapat itu didengarkan baik-baik. Jika benar dan sejalan dengan al-Qur’an, hendaknya diterima dengan lapang dada. Walaupun dalam prosesnya terjadi ketegangan antar mereka, Ishlah merupakan jalan keluar terbaiknya.

Sebaliknya, jika yang terjadi justeru jalan buntu, maka perbedaan itu diterima sebagai keniscayaan. Apalagi jika masing-masing telah menyampaikan argumentasi berdasarkan al-Qur’an dan As-sunnah. Seperti itulah musyawarah dan mudzakarah dalam Islam.

Sayang, sampai saat ini belum ada jabatan kerajan yang memebuka ruang dialog perbedaan pendapat dua golongan Suani dan Wahabi dinagara ini. Sunni memiliki hujjah, sementara Wahabi dengan tarjihnya. Demikian juga Al_Arqum, Tabligh , dan lainnya ada pandangan dan pendapat mereka sendiri.

“Eidil Adha ini boleh dijadikan momentum untuk membuka dialog itu. Terlalu lama kita terkungkung dalam tradisi “Eidil Adha yang monoton, seperti sungkeman, halal bi halal, dan tradisi yang mengiringinya. Sudah saatnya silaturrahmi itu dikembangkan menjadi budaya dialog antara sesama ummah.

Saatnya kini untuk membuka pikiran, perasaan, dan wawasan untuk saling menerima dan memberi. Tidak saja pintu rumah yang dibuka, tapi juga pintu hati, dan pintu akal menuju ukhuwah sejati.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 12 Disember 2008 in SINAR JUMAAT

 

Berjuang Melawan Nafsu Diri

Beberapa waktu lalu, pembantu rumah tangga, sebelah majikan saya, disuruh pulang oleh majikan perempuannya. Padahal ia belum genap dua tahun bekerja di Brunei. Permasalahan yang saya dengar, dia menjalin hubungan asmara dengan majikannya yang laki-laki.

Seminggu kemudian, seorang pekerja restoran, yang setiap hari saya kirimi mie, tidak kelihatan bekerja. Dari temannya saya tahu jika ia ternyata sudah pulang. Saya kaget lagi. Informasi selanjutnya yang saya peroleh, dia baru saja menggugurkan kandungan di sebuah rumah sakit. Dan tubuhnya terlalu lemah. Hingga akhirnya terpaksa ia pulang. Rupanya selama bekerja di negeri orang, ia berpacaran lagi dengan seorang lelaki restoran sebelah. Padahal di rumah ia sudah punya suami dan satu anak.

Terakhir, teman saya, seorang sopir di sebuah warung makan, terpaksa harus cepat-cepat kawin, karena perempuan yang dipacarinya sudah dua bulan tidak haid. Dan lagi-lagi, terpaksa, keduanya harus pulang ke tanah air.

Belum lupa dengan tiga kabar tersebut, suatu malam, majikan saya memberi tahu, kabar yang dibacanya di koran memberitakan, polisi menangkap dua pekerja Indonesia. Mereka seorang lelaki dan perempuan. Keduanya tertangkap basah ketika sedang bercinta di suatu tempat.

Satu persatu peristiwa-peristiwa yang menimpa sahabat-sahabat saya bermunculan. Dan itu akan terus disusul dengan berita-berita lain tentunya. Ada yang lucu, unik, tapi ada juga yang sangat serius jika kita lihat dari sudut pandang keimanan. Mengapa tidak? Seorang muslim, yang sedang merantau jauh ke negeri orang, ternyata harus terhempas oleh pernik-pernik nafsu setan.

Akhir-akhir ini, saya sering mendapat surat, telepon dan juga email, dari sahabat, tetangga dan juga saudara-saudara saya. Mereka menanyakan pada saya bagaimana caranya bekerja di luar negeri. Atau beberapa teman malah ingin dicarikan kerja di Brunei, karena katanya di Jakarta gajinya hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan.

Saya berusaha menerangkan kepada mereka dan sedikit memberi rambu-rambu. Sebab proses bekerja di luar negeri tidak seperti yang dibayangkan. Saya juga memberikan saran agar hati-hati berhubungan dengan PJTKI, atau orang-orang yang mencari tenaga kerja di kampung-kampung. Sebab jika tidak berhati-hati bisa terjerumus sendiri. Banyak sahabat-sahabat kami yang terlunta-lunta di perbatasan, karena ternyata visa kerjanya belum ada. Seperti di sebuah kota kecil di perbatasan Indonesia-Malaysia, Singkawang.

Bekerja di luar negeri sah-sah saja. Mereka mungkin tergiur dengan kesuksesan tetangganya. Yang setelah bekerja di luar negeri mampu memperbaiki rumah, menyekolahkan anak, beli tanah dan bisa membeli kebutuhan lainnya. Sehingga kerja di luar negeri seolah sangat indah. Seperti indahnya sebuah gunung yang dilihat dari kejauhan.

Atau mungkin karena betapa susahnya mencari penghidupan di sebuah negeri yang bernama Indonesia. Sebab bagi sebagian orang, seperti saya, bisa diandaikan seperti ayam yang sekarat di dalam lumbung padi.

Permasalahannya, negeri yang makmur, kata para komponis lagu kebangsaan, negeri belahan sorga, kata Cak Nun, itu masih belum bisa memberikan semacam kesejahteraan pada sebagian rakyatnya. Sehingga mereka beranggapan, bahwa di luar negeri sedang hujan emas, sedang di tanah air sendiri sedang hujan batu.

Dan tak lupa saya juga tekankan pada sahabat saya, jika proses medical check sudah selesai, bukanlah selesai segala-galanya. Ada sesuatu yang maha penting di samping kesehatan fisik, yaitu kekuatan iman. Sebab di luar negeri banyak godaan, seperti saya ceritakan di atas tadi.

Sebelum kita berjuang melawan hal-hal lain, seperti mungkin akan menemui majikan keras, mungkin gaji tak terbayar, job kerja tidak sesuai, atau masa kerja yang tidak sesuai dengan aturan buruh, maka hal terpenting yang harus diperhatikan adalah sejauh mana kekuatan iman untuk melawan diri sendiri. Kata Rasulullah, justru perjuangan melawan diri sendirilah yang terberat sebelum terjun ke kancah perjuangan yang lain. Bahkan lebih berat dari perang Badar.

Saya bukan lagi sok alim. Atau sedang bergaya kesufi-sufian. Sama sekali tidak. Bahkan saya pun tentu masih belepotan dengan daki-daki dosa. Saya hanya tergerak dengan firman Allah: Bahwa kita harus saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran. Kenapa ini penting? Karena banyak sekali kejadian-kejadian di sekitar saya, yang intinya sebenarnya adalah lemah iman.

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang yahudi, orang-orang nasrani, orang-orang shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al Baqarah 62)

Sebab belum lama ini, saya juga mendapat suatu kejadian juga. Seorang teman, memberi saya nomor HP. Setelah saya hubungi, tenyata nomor itu milik seorang perempuan. Sebelum saya bicara banyak, ia telah nyerocos bicara terlebih dahulu. Ia menawari saya untuk jumpa di mana. Jam berapa. Ia siap bertemu kapan dan di mana saja. Dan terakhir ia juga siap diajak ke mana saja jika saya mau. Termasuk tidur bersama. katanya. Na ‘udzubillahi mindzalik.

Sejurus, saya ingat kata-kata Umar bin Khattab: “Seandainya tidak ada akhirat, saya akan nikmati dunia ini sepuas-puasnya.”

Kalimat dari sahabat nabi yang gagah berani itu, seolah menyiram tubuh saya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tentu saja, kalimat itu sangat menyejukkan. Karena keluar dari seorang manusia yang roh imannya sudah begitu kuat. Sehingga menambah sedikit benteng pertahanan nafsu dunia saya.

Maka kepada sahabat saya yang ingin kerja di luar negeri itu, saya menyarankan agar berlatih terus menerus untuk berjuang melawan diri. Melawan nafsu pribadi. Sehingga kelak setelah di luar negeri akan menang melawan siapapun. Apalagi hanya sekedar tawaran manis dari bibir-bibir perempuan. Sebab maaf-maaf saja, Depnaker maupun PJTKI, saat ini belum mengingatkan hal semacam itu. Kecuali hanya “Kuatkan Fisik Anda Sebelum Kerja di Luar Negri”. Itu saja yang terpampang di kantor-kantor Depnaker, maupun kantor-kantor PJTKI.

***
Sus Woyo
woyo72@yahoo.com

 
Tinggalkan komen

Posted by di 12 Disember 2008 in SINAR JUMAAT

 

Sistem Ekonomi Islam (3) – Tafsir Fi Zhilal Al-Quran

Sekarang kita telaah nash (teks) Al-Qur’an secara rinci dalam pelajaran ini :

Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (261)

Sesungguhnya undang-undang (peraturan) ini tidak dimulai dengan kewajiban (Fardhu) dan beban (taklif). Akan tetapi dimulai dengan motivasi dan menyatukan hati. Dengan demikian dapat membangkitkan semangat dan persaaan yang hidup dalam segenap diri masnusia. Sesungguhnya ia juga dapat menampilkan gambaran kehidupan yang bergerak, berkembang dan memberi. Itulah gambaran pohon (tumbuhan. Sebuah pemberian bumi yang bersal dari Allah. Pohon yang memberi berlipat ganda dari apa yang dia ambil. Dia memberikan nilai yang termahal dari dirinya dengan berlipatganda jika dibanding dengan nilai bibit/benihnya.

Gambaran yang menginspirasikan ini memberikan perumpamaan bagi orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah. Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji.

Sesungguhnya makna yang dapat ditangkap akal dari ungkapan tersebut berakhir pada aktivitas berhitung secara matematis yang satu biji berlipat ganda menjadi 700 biji. Adapun pemandangan yang hidup yang ditampilkan ungkapan tersebut jauh lebih luas dan lebih indah serta lebih membangkitkan perasaan dan lebih berpengaruh pada hati. Itulah pemandangan yang hidup dan berkembang. Pemandangan alami yang hidup. Sebuah pemandangan tanaman yang menghasilkan. Kemudian pemandangan yang ajaib dalam dunia tumbuh-tumbuhan. Sepohon kayu yang memiliki tujuh cabang dan setiap cabang memiliki buah 100 biji.

Dalam kafilah kehidupan yang berkembang dan memberi, mampu mengarahkan hati manusia untuk mencurahkan dan memberikan apa yang dia miliki. Pada hakikatnya tidak memberi, tapi menerima dan tidak berkurang, tapi bertambah. Gelombang memberi dan tumbuh itu melaju dalam perjalanannya. Gelombang itu mampu melipatgandakan perasaan yang dibangkitkan oleh pemandangan pohon/tanaman dan hasilnya. Sesungguhnya Allah melipatgandakan bagi orang yng dikehendakinya. Dia melipatgandakan tampa hitungan dan perkiraan. Dia melipatgandakan orang yang diberi-Nya rezki yang siapapun tidak dapat mengetahui batasnya.

Di antara kasih sayang-Nya yang dicurahkan, seseorang tidak akan mengetahui keluasannya. { والله واسع عليم } : Kata ‘wasi’ : tidak akan pernah sempit pemberiannya, tidak terbatas dan tidak habis. Kata ‘’Alim’ : Mengetahui bibit/benih dan mengokohkannya dan tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

Akan tetapi, infak yang mana yang tumbuh dan berkembang itu? Pemberian yang mana yang dilipatgandakan Allah di dunia dan Akhirat bagi orang yang dikehendaki-Nya itu? Itulah infak yang mampu menghormati perasaan kemanusiaan dan tidak mengotorinya. Infak yang tidak menyakiti kemuliaan dan tidak melukai perasaan. Infak yang lahir dari kesenangan dan kebersihan jiwa dan berorientasi hanya kepada Allah seraya mencari ridha-Nya.

Orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang diinfak-kannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(262)

Cercaan (menyebut-nyebut pemberian) itu unsur kebencian tercela dan perasaan redahan. Jiwa manusia pada dasarnya tidak menyebut-nyebut apa yang dia berikan kecuali ada keingingan merasa lebih tinggi dan kebohongan, atau keinginan untuk meremehkan yang menerimanya, atau keinginan untuk memancing perhatian orang lain. Saat itu, orientasinya bukan lagi kepada Allah, melainkan kepada manusia.

Semua prilaku itu itidak akan bersemi dalam diri yang baik dan tidak akan terlintas dalam hati seorang Mukmin. Karena menyebut-nyebut itu menggantikan sedekah menajadi rasa sakit bagi yang menerima dan yang memberi. Rasa sakit bagi sipemberi karena membangkitlkan dalam dirinya rsa sombong dan ketinggian dengan keinginan melihat saudaranya rendah dan bertekuk lutut padanya. Sebagaimana juga akan memenuhi hatinya dengan nifaq (ambivalence), riyak dan jauh dari Allah. Sakit bagi yang menerima karena menimbulkan ras rendah diri dan kekalahan dalam dirinya yang berakibat lahirnya rasa iri hati dan balas dendam….

Islam sama sekali tidak menginginkan infak itu hanya sekedar menutupi kekosongan, mengisi perut dan sekedar memenuhi kebutuhan. Bukan itu…. Sesungguhnya yang diinginkan Islam (dari sistem ekonomi ini), adalah edukasi, penyucian dan pembersihan jiwa yang memberi, melahirkan perasaan kemanusiaan, hubungan persaudaraan dengan saudaranya yang miskin seagama dan sesame manusia, dan peringatan baginya akan nikmat Allah serta janjinya dengan Allah tentang nikmat itu bahwa dia akan memakannya tanpa berlebihan dan tanpa menghambur-hamburkannya serta untuk diinfakkan di jalan Allah, tanpa harus kikir dan tidak pula melakukan cercaan.

Demikian pula, Islam menginginkan kerelaan dan ketenagan bagi jiwa sipenerima, penguat hubungan dengan saudaranya seagama dan sesama msnusia, sebagai penutup bagi ketimpangan Jamaah (kumunitas) suapay tegak di atas dasar takaful (saling menopang) dan ta’awun (saling menolong) yang mengingatkannya akan kesatuan bangunan, kesatuan hidup, kesatuan orientasi dan kesatuan beban. Sedang cercaan itu akan menghapus semua makna tersebut dan akan menempatkan infak itu menjadi racun dan api. Dia merupakan kesakitan kendati tidak diiringi dengan kesakitan lain dari tangan dan lidah. Dia adalah kesakitan itu sendiri yang akan menghapuskan nilai infak, mencabik-cabik masyarakat dan memancing lahirnya rasa kebencian dan hasad.

Sebagian peneliti kejiawaan saat ini menetapkan bahwa impact alami dalam jiwa manusia bagi suatu kebaikan (yang dia terima dari orang lain) pada suatu hari akan menjadi permusuhan. Mereka berdalih bahwa sipenerima merasakan kekurangan dan kelemahan di hadapa sipemberi. Perasaan ini akan selalu bergelora dalam dirinya. Sebab itu, ia akan mencoba mengatasinya dengan menyerang yang memberinya dan menyembunyikan permusuhan. Karena dia selalu merasa lemah dan keurang di hadapan sipemberi tadi. Demikian juga sipemberi selalu mersakan bahwa dialah yang berjasa atas orang yang diberinya itu. Inilah perasaan yang menambah rasa sakit bagi sipenerima sehingga berubah menjadi permusuhan.

Teori tersebut bisa saja benar dalam masyarakat jahiliyah, di mana masyarakat yang tidak diliputi oleh spirit Islam dan tidak berhukum pada Islam. Adapun agama ini (Islam) telah mengobati masalah tersebut dengan cara lain. Islam mengobatainya dalam jiwa manusia dengan sebuah ketetapan bahwa harta itu adalah milik Allah. Rezki yang ada di tangan mereka adalah rezki dari Allah. Ini adalah hakikat yang tidak dibantah kecuali oleh orang yang bodoh terhadap sebab-sebab rezki yang jauh maupun yang dekat.

Semuanya pemberian Allah di mana manusia tidak kuasa sedikitpun atasnya. Satu biji gandum telah tertlibat dalam pengadaannya berbagai kekuatan dan energy alam dari matahari sampai bumi, air dan udara. Semua itu tidak berada dalam kemampuan manusia. Coba kiaskan satu biji gandung dengan titik air, serabutnya, dan segala sesuatu yang ada.

Bila sipemberi itu sesuatu dari hartanya, maka sesungguhnya dian memberikan harta Allah yang diangrakan padanya. Bila meminjamkan sejumlah hartanya, berarti ia memberikan pinjaman pada Allah yang akan dilipatgandakan baginya. Tidalah orang yang belum beruntung itu kecuali alat dan sebab bagi yang memberi untuk meraih pemeberiaan harta Allah berlipatganda. Kemudian, Al-Qur’an masuk menejelaskan adab (tata cara infak) yang sedang kita bahas sekarang, sebagai penguat bagi pengertian ini dalam jiwa sehingga sipemberi tidak merasa tinggi dan tidak menghinakan yang menerima.

Setiap dari keduanya sama-sama makan dari rezki Allah. Bagi para pemeberi akan mendapat ganjaran dari Allah jika mereka memberi dari harta Alllah dan di jalan Allah seraya berpegang teguh pada adab yang telah digariskan-Nya pada mereka dan terikat denga janji yang dijanjiakan Allah pada merka :

{ ولا خوف عليهم } Mereka tidak takut dari kefakiran, dengki dan tipu daya dan tik pula mereka bersedih { ولا هم يحزنون } . atas apa yang mereka infakkan di dunia dan tidak pula sedih menghadapi tempat kembali mereka di akhirat nanti.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 5 Disember 2008 in SINAR JUMAAT, TAFSIR QURAAN

 

Al-Quran sumber perundangan utama – Lim Guan Eng

(Hrkh) – Al-Quran penting sebagai sumber perundangan utama dan mampu melahirkan masyarakat madani yang berakhlak tinggi, berintergriti yang bersesuaian dengan prinsip ‘Amar Ma’ruf, Nahi Mungkar’ dan Cekap, Akauntabel dan Telus (CAT).


Demikian antara ucapan yang disampaikan oleh Ketua Menteri Pulau Pinang, Lim Guan Eng dalam majlis penghargaan kepada 102 orang penghafal dan pengajar Al-Quran yang memberi khidmat di negeri itu baru-baru ini.

Kerajaan Pulau Pinang dalam majlis tersebut memberikan sumbangan Rm300.00 seorang dan sijil penghargaan kepada 102 orang penghafal dan pengajar Al-Quran yang memberi khidmat di negeri itu baru-baru ini.

Program yang diadakan di Dewan Seminar Komplek Penyayang itu menyaksikan Lim mengotakan janjinya supaya pengajian al-Quran dimajukan supaya masyarakat dapat diselamatkan apabila kandungan al-Quran dihayati bukan diketepikan sebagaimana sebelum ini.

ImageTurut serta dalam program yang dirasmikan oleh Tuan Yang Terutama Yang DiPertua Negeri Pulau Pinang, Tun Dato’ Seri Utama, Dr Haji Abdul Rahman Abbas itu ialah Timbalan Ketua Menteri 1, Mohamad Fairus Khairudin, Exco Hal Ehwal Pengguna Negeri, Abdul Malek Kasim dan Exco Pertanian dan Industri Asas Tani, Pembangunan Luar Bandar dan Tebatan Banjir Negeri, Law Choo Kiang, Timbalan Mufti Negeri, Haji Suleh Wan Kurdi Jalaludin dan Pengarah Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Pulau Pinang, Haji Sazali Hussein.

Kelihatan sama ialah pimpinan PAS yag diketuai oleh Pesuruhjaya PAS Negeri, Ustaz Saleh Man; Ketua Dewan Ulama’ PAS Negeri, Ustaz Soid Mohd Amin; Bendahari PAS Negeri, Ustaz Khalid Man; Penolong Setiausaha PAS Negeri, Haji Jamil Abdul Rahman dan Yang Dipertua PAS Tanjung, Yaacob Omar.

Menurut beliau lagi, nilai keharmonian lebih terserlah seandainya setiap agama mematuhi ajaran yang diamalkan begitu juga Islam jika dilengkapi dengan pengetahuan yang tinggi tentunya melahirkan sebuah masyarakat yang sempurna jauh daripada ketidak tamadhunan.

“Saya tidak menafikan golongan penghafal al-Quran begitu penting bagi Umat Islam khususnya dalam memastikan al-Quran yang menjadi sumber perundangan utama tetap terpelihara, ” ujarnya ketika berucap dalam majlis penyampaian sumbangan ikhlas kepada 102 para Huffaz.

Tegasnya, hanya mereka yang tabah sahaja dapat mencapai tahap tersebut kerana tanpa displin, kuat dan sabar seseorang itu mustahil boleh melakukan kerja berkenaan.

Lim percaya melalui al-Quran masyarakat Madani yang berakhlak tinggi, berintegriti bersesuai dengan pronsip ‘Amar Ma’ruf, Nahi Mungkar’ dan Cekap, Akauntabel dan Telus (CAT) akan menjadi kenyataan.

“Usaha Kerajaan Pakatan Rakyat berlainan dengan usaha yang dilakukan oleh Kerajaan Barisan Nasional (BN) iaitu mahu membentuk insan yang bermutu berguna pada semua keadaan, ” katanya.

Justeru itu, kemunculan lebih ramai Hafiz secara langsung dapat membantu merealisasikan impian matlamat Kerajaan Negeri mengwujudkan modal insan kelas pertama yang boleh menyelamatkan masyarakat daripada terus hanyut dengan masalah yang melanda.

Bagi menjayakan impian sesetengah pihak Hufaz semestinya menonjolkan bakal yang ada untuk menerokai alam profesional selain keusahawanan dan politik yang baik dan jauh daripada sikap menipu.

Sementara itu, Timbalan Ketua Menteri I, Fairuz Khairudin pula bercadang menubuhkan Jawatankuasa Khas Tahfiz Pulau Pinang di mana jawatankuasa ini akan menjemput panel penguji antaranya Dato’ Haji Abu Hasan Din Al-Hafiz.

Jawatankuasa ini bertindak mengiftiraf para Huffaz untuk menjadi imam di samping mengajar di serata pelusuk negeri ini selari dengan sasaran melahirkan ‘satu keluarga Islam satu hafiz’.

“Kita letakkan sasaran ini kerana saya tahu tiada yang lebih baik melainkan mereka yang meghafalkan isi al-Quran dan melaksana dalam kehidupan. Apabila kita mahu melahirkan para hafiz bukan beliau seorang sahaja yang bertanggungjawab sebaliknya seluruh keluarganya perlu bersiap untuk penyediaan suasana terebut, ” terang beliau.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 5 Disember 2008 in MINDA PEMIMPIN, SINAR JUMAAT

 

Pendapat Imam Mazhab tentang Taqlid

Buku Ikhwanul Muslimin; Deskripsi, Jawaban Tuduhan, dan Harapan Oleh Syaikh Jasim Muhalhil)

Asy-Sya’rani dalam kitab “al-Mizan” menyebutkan bahwa imam yang empat, semuanya mengatakan: “Bila ada hadits yang shahih, maka itulah madzhab kami”.

Imamul A’zham Abu Hanifah radhiallahu’anhu berkata: “Tidak benar bagi seseorang untuk mengatakan pendapatku, sampai ia mengetahui dari mana kami mengatakannya.”

Malik radhiallahu’anhu mengatakan: “Sesungguhnya saya adalah manusia biasa yang dapat berlaku salah dan dapat benar. Maka hendaklah kalian memeriksa pendapatku. Semua yang sesuai dengan Kitabullah dan sunnah, ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan keduanya tinggalkanlah.”

Diriwayatkan bahwa Syafi’i radhiallahu’anhu ditanya oleh seseorang, lalu Syafi’i mengatakan bahwa diriwayatkan Rasulullah saw. bersabda begini dan begini. Kemudian si penanya berkata: “Wahai Abu Abdillah, apakah anda mengatakan ini?”  Syafi’i menjawab: “Apakah engkau lihat di badanku terdapat ikat pinggang? Apakah engkau pernah melihatku keluar dari gereja?” Dalam riwayat lain, disebutkan beliau terkejut dan marah, air mukanya berubah, dan mengatakan: “Bumi mana yang akan kupijak, dan langit mana yang akan menaungiku, bila aku meriwayatkan tentang Rasulullah saw. yang tidak beliau lakukan.”

Abu Daud berkata: “Aku mendengar Ahmad bin Hambal radhiallahu’anhu mengatakan: “Yang dinamakan ittiba’ (mengikuti) ialah seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi saw.”

Beliau juga pemah mengatakan: “Jangan mengikutiku, jangan mengikuti Malik, jangan mengikuti Syafi’i, jangan mengikuti Auza’i, jangan mengikuti Tsauri, tapi ambillah dari mana mereka
mengambil pendapatnya.” Maksudnya adalah al-Qur’anul Karim.

Ya Allah, sesungguhnya pena menuliskan ini disertai rasa takut kepada-Mu dan malu kepada Rasul saw. Apakah diperlukan penjelasan yang menyebutkan bahwa seseorang harus mendahulukan Kalamullah dan rasul-Nya dari selain keduanya? Atau apakah boleh seseorang menguatkan pendapat selain keduanya?

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab. 36)

Bila ada seorang alim dari para ulama Islam saat ini yang menjadikan perkataannya sederajat dengan perkataan Allah dan Rasul berarti dia bisa keluar dari agama Islam! Apatah lagi bila
perkataannya lebih didahulukan dari perkataan Allah dan rasul-Nya!!

Bagaimana bila salah satu imam madzhab yang mulia berdiri di hadapan Rasulullah saw., apakah ia akan menolak atau melanggarnya??

Tidak.  Demi Allah!! Bahkan ia mungkin tak mampu memandang Rasulullah, karena kemuliaan dan kebesarannya. Para sahabat pernah menanti seseorang dari kaum Badui agar ia bertanya pada Rasulullah saw. kemudian mereka mengambil manfaat dari jawaban yang Rasul berikan kepadanya.

Sesungguhnya rasa malu terkadang telah menjadikan lidah mereka kaku di hadapan Rasulullah saw. untuk bertanya. Seolah-olah di atas kepala mereka ada burung-burung.

Sebagai penutup, saya paparkan kepada anda sebuah nasihat berharga dari Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang dinukil kitab-kitab Sunan:

“Suatu ketika, Rasulullah saw. menasihati kami dengan suatu nasihat yang membuat air mata menitik, dan hati bergetar. Kami lalu berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah, ini sungguh-sungguh
seperti nasihat perpisahan, dengan apa kau wasiatkan kami ?”

Rasul menjawab, “Aku tinggalkan kalian dalam suasana terang benderang. Malamnya seperti siang. Tidak ada yang tergelincir setelahku kecuali orang yang celaka. Dan barang siapa di antara kalian yang masih hidup kelak akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian melakukan apa yang kalian ketahui dari sunnahku dan sunnah khulafa’u rasyidin yang mendapat petunjuk.

“Hendaklah kalian taat, meskipun kepada seorang Habsyi. Gigitlah olehmu ketaatan itu dengan geraham. Sesungguhnya seorang mu’min laksana cucuk onta. Setiap kali diikat ia terikat. Dan jauhilah olehmu perkara-perkara baru (dalam agama). Sesungguhnya setiap perkara baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”

 
Tinggalkan komen

Posted by di 29 November 2008 in SINAR JUMAAT

 

Keadilan Islam

Sejak menjawat jawatan sebagai gabenor, Amr bin Al-Ash tidak lagi turut serta di medan pertempuran. Dia lebih banyak tinggal di istananya di Mesir. Di hadapan istananya yang mewah itu terdapat sebidang tanah yang luas dan sebuah pondok usang milik seorang lelaki Yahudi tua. “Alangkah baik dan indahnya jika di atas tanah itu berdiri sebuah masjid”. Detik hati sang gabenor.

Dipendekkan cerita, Yahudi itu dipanggil mengadap gabenor untuk melakukan proses tawar-menawar bagi membeli tanah milik Yahudi tua itu. Namun keputusannya sungguh mengecewakan. Amr bin Ash sangat kesal kerana si tua itu menolak dan enggan menjual tanah dan pondok buruknya. Ini kerana harga yang ditawarkan oleh gabenor adalah lima kali ganda dari harga pasaran.

“Baiklah jika itu keputusanmu, saya harap anda tidak menyesal!”. Tegas gabenor dengan nada ancaman.

Setelah orang tua Yahudi itu berlalu, Amr segera memerintahkan orang bawahannya mengeluarkan sepucuk surat pemberitahuan bagi membongkar tanah milik Yahudi tersebut. Apabila peristiwa itu berlaku, orang tau tadi hanya mampu menangis kerana tidak berdaya melakukan apa-apa. Dalam situasi mengecewakan itu, terdetiklah dalam hati orang Yahudi itu untuk mengadu keputusan gabenor Mesir kepada Khalifah Umar al-Khattab.

“Ada apa-apa keperluan yang pentingkah wahai datuk, kerana kau datang begitu jauh ke sini?, Tanya Umar al-Khattab kehairanan.

Datuk tua itu sebenarnya sungguh gementar berdepan dengan seorang klhalifah yang berkedudukan tinggi dan penuh wibawa. Walaupun pada hakikatnya penampilan khalifah Umar amat sederhana dibandingkan dengan keluasan kekuasaan pemerintahan beliau. Setelah degup jantungnya bertambah reda, datuk tua itu mula bercerita bagaimana perjuangannya mempertahankan miliknya dan melaporkan aduan kesnya penuh kesedihan.

Merah padam wajah Umar apabila mendengar aduan datuk tua Yahudi itu. “Masya Allah, kurang sopan sungguh Amr!” kecam Umar.

“ Sungguh tuan saya tidak mengada-ngadakan cerita walau sepotong ayat” sahut datuk itu bertambah gementar dan kebingungan. Malah dia semakin bingung apabila Umar memintanya mengambil sepotong tulang lalu menggoreskan sesuatu pada tulang itu dengan pedangnya.

“ Berikan tulang ini kepada gabenorku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” perintah khalifah Al-Faruq Umar al-Khattab.

Orang Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, adakah tuan sedang mempermainkan saya?” kata Yahudi tua itu dengan suara yang perlahan. Dia mula cemas dan memikirkan perkara yang bukan-bukan. “Jangan –jangan khalifah dengan gabenornya dua kali lima saja. Yalah, di mana saja manusia yang majoriti dan memegang tampuk pemerintahan dan kekuasaan pasti akan menindas kaum minoriti. Malah mungkin aku akan ditangkap dan dituduh sebagai seorang subversif,” bisik hati orang tua itu dengan penuh curiga dan khuatir. Namun dia tetap mengadap gabenor Mesir sebagaimana yang diarahkan oleh khalifah Umar al-Khattab.

Setelah menyerahkan tulang goresan Umar kepada gabenor Mesir, datuk tua Yahudi itu semakin tidak faham. Dia semakin tak faham kerana gabenor Mesir dengan segera memerintahkan sesuatu yang di luar dugaan. “Bongkar dan runtuhkan masjid itu!” teriak Amr bin Ash dengan nada yang gementar. Wajah gabenor Mesir itu pucat, seperti dilanda satu situasi ketakutan yang amat dahsyat.

Yahudi itu segera berlari keluar dari isatana, menuju ke kawasan pondok usangnya bagi melihat akan kebenaran arahan gabenor tadi. Tepat sekali sebagaimana yang dijangkakan. Beberapa petugas sedang bersiap sedia menghancurkan masjid yang tersergam indah yang hampir siap dibina itu.

“Tunggu!” jerit orang tua Yahudi itu. “Maafkan saya tuan gabenor, tolong jelaskan kepada saya segala peristiwa yang pelik ini? Adakah ia berpunca daripada tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sehingga Tuan begitu nekad membuat keputusan membongkar semula bangunan yang amat mahal ini? Sesungguhnya saya benar-benar tak faham?” tanya orang tua itu bertalu-talu dengan nada yang penuh kehairanan.

Amr bin Ash memgang bahu datuk tua itu penuh mesra, “Wahai datuk, sebenarnya, tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya juga busuk”.

“Tapi…” datuk tua itu cuba mencelah.

“ Namun, keran ia mengandungi perintah khalifah, maka tulang itu menjadi sangat bererti. Ketahuilah, tulang yang busuk itu adalah peringatan bahawa betapa pun tingginya kekuasaan seseorang ia akan kembali menjadi tulang yang busuk. Manakala huruf alif yang digores di atas tulang itu bermaksud kita mestilah berlaku adil sama ada ke atas (di kalangan pembesar) mahu pun ke bawah (di kalangan rakyat biasa). Lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah tidak akan teragak-agak untuk memenggal kepala saya!” jelas gabenor Mesir itu panjang lebar.

“Sesungguhnya, amat agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan pondok usang saya itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam,” ujar orang Yahudi itu pasarah berserta linangan air mata yang tak tertahan.

Allahu Akbar!. Inilah Islam yang benar dan agung. Inilah antara deretan kisah sejarah dan keunikan pemerintahan Islam yang sedia mendengar rintihan dan keluhan walaupun ianya daripada seorang tua Yahudi!. Kita hendaklah sentiasa menegakkan keadilan tanpa memilih taraf dan agama. Lihatlah pula bagaimana pemerintah menerima teguran!. Sungguh mengharukan…tidak pernah berdendam atau bermusuhan. Menerima kebenaran dan segera membetulkan kesilapan tanpa berlengah atau ditangguhkan. Betapa kerendahan yang ada pada pemerintah- pemerintah teladan. Sehingga mampu menawan hati kufar yang asalnya ingin berlawan. Mengkagumkan!

Benarlah sebagaimana yang disabdakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW, “… umat yang terbaik adalah semasa zamanku, kemudian selepasnya, serta berikutnya…”. (Amat besarlah kata-kata Rasulullah SAW)

 

 
Tinggalkan komen

Posted by di 21 November 2008 in FIQAH ISLAM, MINDA PEMIMPIN, SINAR JUMAAT

 

Cahaya Membaca Surah Alkahfi

Salah satu doa orang beriman yang diabadikan di dalam Al-Qur’an ialah:

رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS At-Tahrim ayat 8)

Doa ini dipanjatkan kepada Allah ta’aala oleh orang-orang beriman pada saat mereka melintasi jembatan di atas neraka. Suatu jembatan yang digambarkan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai ”lebih halus dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang.” Setiap orang yang pernah mengucapkan kalimat tauhid akan melintasi jembatan yang membentang di atas neraka.

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

”Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (QS Maryam ayat 71)

Ketika menyeberangi jembatan tersebut keadaan sangat mencekam dan gelap. Sehingga Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa orang akan menyeberangi jembatan itu sesuai cahaya yang ia miliki. Cahaya tersebut berbanding lurus dengan tingkat keimanan dan amal kebaikan yang telah diinvestasikan seseorang sewaktu hidupnya di dunia. Orang yang beriman akan sanggup menyeberanginya hingga selamat sampai ke ujung. Sedangkan orang munafiq akan mengalami gangguan dalam menyeberanginya sehingga mereka bakal jatuh terjungkal ke dalam panasnya api neraka di bawah jembatan tersebut.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَدْعُو النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِهِمْ سِتْرًا مِنْهُ عَلَى عِبَادِهِ، وَأَمَّا عِنْدَ الصِّرَاطِ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي كُلَّ مُؤْمِنٍ نُورًا، وَكُلَّ مُؤْمِنَةٍ نُورًا، وَكُلَّ مُنَافِقٍ نُورًا، فَإِذَا اسْتَوَوْا عَلَى الصِّرَاطِ سَلَبَ اللَّهُ نُورَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ، فَقَالَ الْمُنَافِقُونَ: “انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ”[الحديد آية 13] وَقَالَ الْمُؤْمِنُونَ: “رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنا”[التحريم آية 8] فَلا يَذْكُرُ عِنْدَ ذَلِكَ أَحَدٌ أَحَدًا.

“Allah ta’aala akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka, ada tirai penghalang dari-Nya atas hamba-hambaNya. Adapun di atas jembatan Allah ta’aala memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada di tengah jembatan, Allah ta’aala-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.”(QS AtTahrim ayat 8) Dan berdoalah orang-orang beriman: ”Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.” (AlHadid ayat 13) Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR Thabrani 11079)

Saudaraku, sungguh ini merupakan peristiwa yang sangat menakutkan. Sebab tidak seorangpun yang tahu apakah dirinya akan sanggup selamat hingga ke ujung jembatan pada saat itu. Maka marilah kita pelihara dan selalu tingkatkan ketaqwaan kita. Sebab Allah ta’aala menjamin bahwa orang-orang bertaqwa pasti akan diselamatkan dari api neraka. Hanya mereka yang zalim-lah yang akan dibiarkan terjungkal dari jembatan dan merasakan siksa neraka.

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS Maryam ayat 72)

Bahkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan dalam sebuah hadits bahwa orang bertaqwa tidak akan merasakan panasnya neraka karena Allah ta’aala akan jadikan api neraka laksana api yang menyentuh Nabi Ibrahim’alihis-salaam, yakni terasa dingin dan selamat bagi muttaqin.

لَا يَبْقَى بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ إِلَّا دَخَلَهَا فَتَكُونُ عَلَى الْمُؤْمِنِ بَرْدًا وَسَلَامًا كَمَا كَانَتْ عَلَى إِبْرَاهِيمَ حَتَّى إِنَّ لِلنَّارِ أَوْ قَالَ لِجَهَنَّمَ ضَجِيجًا مِنْ بَرْدِهِمْ ثُمَّ يُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَيَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

“Tidak ada orang sholeh dan orang jahat yang tersisa melainkan dia masuk ke neraka. Neraka itu dingin dan menyelamatkan bagi orang beriman, seperti halnya yang dialami Ibrahim sehingga neraka itu gaduh lantaran dinginnya mereka. Kemudian Allah ta’aala menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (HR Ahmad 13995)

Dan dalam hadits lainnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam memberikan kabar gembira bahwa orang-orang beriman yang sholeh akan dikeluarkan dari neraka karena amal baiknya.

{ وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا } قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرِدُ النَّاسُ النَّارَ كُلُّهُمْ ثُمَّ يَصْدُرُونَ عَنْهَا بِأَعْمَالِهِمْ

“Dan tidak ada seorangpun darimu, melainkan mendatangi sekitar neraka itu.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Seluruh manusia datang ke sekitar neraka, kemudian mereka keluar dari sana dengan amal baiknya.” (HR Ahmad 3927)

Maka, saudaraku, marilah kita persiapkan bekal cahaya sebanyaknya guna menerangi lintasan kita di atas jembatan tersebut kelak. Dan salah satu bentuk upayanya ialah dengan secara disiplin setiap hari Jum’at membaca surah Al-Kahfi.

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين »

“Sesungguhnya barangsiapa membaca surah Al-Kahfi pada hari Jum’at, niscaya ia akan diterangi oleh cahaya antara dua Jum’at.” (HR Hakim 3349)

Bila setiap hari Jum’at kita disiplin membaca surah Al-Kahfi, maka insyaAllah hidup kita sepanjang umur akan senantiasa deterangi cahaya untuk bekal keselamatan di akhirat, khususnya ketika melintasi jembatan di atas neraka. Amin.-

oleh Ihsan Tandjung

 
Tinggalkan komen

Posted by di 21 November 2008 in SINAR JUMAAT, TAFSIR QURAAN

 

Tarbiyyah Bukan Untuk Menjadikan Kita Lebih Lemah

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut : 69)

Forest Gump adalah seorang anak yang cacat kaki dan harus berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan alat bantu. Di sisi lain, ia menjadi seorang anak yang terbelakang mental dan sulit untuk berbicara. Kondisi ini membuat Forest menjadi minder di kalangan teman-temannya dan selalu menjadi bahan cemoohan.

Suatu saat, karena hal yang tidak diduga-duga, sekelompok ‘bandit’ anak-anak mencoba untuk melukai dan meneror Forest Gump. Forest dilempar batu, dan ia terpaksa harus tertatih-tatih berlari supaya tidak dihajar oleh anak-anak tadi. Dengan kaki kesakitan, ia terus berlari ….. berlari …… dan…..berlari, tak peduli cemoohan orang-orang yang ada di belakangnya. Ia bisa memotivasi diri sendiri, sehingga ‘keajaiban’ pun terjadi. Kakinya yang cacat dan harus mengenakan alat bantu, menjadi sembuh dan seketika itu juga, ia mampu berlari karena ia percaya bahwa motivasi melebihi segalanya, bahkan cacat fisik sekalipun. Bahkan sejak saat itu, ia tidak berhenti berlari, sampai orang mengenalnya sebagai manusia dengan kecepatan lari yang luar biasa. MOTIVASI telah mengubah kehinaan menjadi kemuliaan.

Syaikh Ahmad Yasin, adalah seorang pejuang keadilan sejati bagi rakyat Palestina. Ia bukan apa-apa, selain seorang tua renta yang hanya duduk di kursi roda. Ia cacat kaki, tangan dan pendengarannya sedikit terganggu, karena siksaan yang harus ia terima dari penjajah Israel akibat keteguhan sikapnya memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina. Tapi cacatnya bukan halangan bagi dia untuk beralasan mundur dari da’wah dan jihad. Syaikh Ahmad Yasin percaya, bahwa perjuangannya membebaskan rakyat Palestina dari penjajahan adalah bagian dari ibadahnya kepada Allah SWT. Dengan tertatih-tatih duduk di kursi roda, ia mampu menggerakkan hampir 2 juta hati pemuda belia Palestina, untuk bergabung dengan gerakan perlawan Islam yang dimotori oleh HAMAS. Perjuangannya dan sumbangsihnya untuk Islam ia akhiri dengan kemuliaan sebagai seorang syuhada, saat rudal helikopter Apache menghancurkan jasadnya, selepas ia menunaikan shalat subuh di kota Gaza.

Itulah sekelumit orang-orang yang tidak pernah merasa putus asa dengan dirinya sendiri. Masih banyak cerita sukses orang lain yang tak jauh berbeda. Tapi, bagaimana dengan kita ? Saat ini, kondisi kita jauh lebih nyaman, lebih mapan dan lebih sehat dari Forest Gump atau Syaikh Ahmad Yasin. Namun, apakah sumbangsih yang telah kita berikan untuk orang lain ? Untuk da’wah Islam, terutama. Pertanyaan-pertanyaan ini harusnya menjadi motivasi bagi kita, untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menjalani Tarbiyah Islamiyah berikut segala hal yang mendukung keberhasilannya. Kita tidak harus berpeluh-peluh berlari untuk menghindari ancaman rudal Apache saat akan berangkat liqo’, karena Indonesia sampai saat ini masih aman-aman saja. Kita juga tinggal men-starter motor kita saat amanah memanggil kita, tanpa harus berjalan tertatih-tatih menghindari keroyokan anak-anak nakal, sebagaimana Forest Gump. Kita juga tidak harus bersusah-susah mencari penghasilan tambahan, karena segala kebutuhan kita masih bisa dicukupi oleh orang tua kita. Dan kita masih bisa beristirahat dan tertidur nyenyak, tanpa gangguan dari suara peluru dan butiran-butiran bom cluster yang dijatuhkan Amerika di Irak dan Afghanistan.

Apa artinya ? Artinya, kita punya modal awal yang JAUH LEBIH BESAR, LEBIH BANYAK DAN LEBIH BERKUALITAS dari yang dimiliki oleh seorang Forest Gump atau Syaikh Ahmad Yasin. Lalu, apa yang membuat kita menunggu untuk menjadi orang yang lebih sukses dari mereka ? Bisakah kita menjadi orang yang lebih hebat dari mereka ?
Tentu bisa ! Dengan terus menjalani tarbiyah dan beramal. Tarbiyah tanpa amal akan berujung pada kebosanan (jumud), dan amal tanpa tarbiyah akan berujung pada futur (melemah semangat keislamannya). Tarbiyah bukanlah sebuah beban. Seharusnya, tarbiyah menjadikan seorang muslim menjadi lebih hebat, karena ia mampu mengoptimalkan semua potensi yang ia miliki dan meminimalisir kelemahan yang ada pada dirinya. Sebagaimana Bilal yang menjadi andalan Rasulullah, padahal ia seorang budak. Sebagaimana Umar yang menjadi khalifah kedua, padahal tadinya ia preman yang kejam. Dan sebagaimana Abu Dzar Al Ghifari yang menjadi penasihat khalifah, padahal ia seorang yang zuhud dan miskin. Sudahkah menjadi renungan bagi kita ?

Wa’allahu wa rasulullahi a’lam …..

UST. YUSSAINE YAHYA  (Jawatankuasa Dewan Ulamak PAS Pusat)

 
Tinggalkan komen

Posted by di 14 November 2008 in FIQAH ISLAM, MINDA PEMIMPIN, SINAR JUMAAT

 

Kepentingan dan peranan khutbah

Ustaz Zainudin Hashim
Mengapa orang ramai tidak mendapat pengajaran daripada khutbah yang disampaikan oleh para khatib masa kini?

Pendahuluan Melihat kepada beberapa isu semasa, melibatkan tindakan umat Islam hari ini yang tidak menjadi golongan pengamal Islam dengan baik, malah tidak boleh dianggap sebagai contoh (role model) kepada segenap bangsa manusia di dunia, daripada peringkat nasional hinggalah ke peringkat antarabangsa Maruah dan harga diri mereka semakin tercalar dengan sanggup menjadi golongan yang membelakangkan ajaran agama mereka sendiri.

Para remaja Islam tidak lagi menjadi wira agama, mereka lebih senang dilabelkan sebagai mat rempit dengan budaya Barat yang songsang menjadi pegangan hidup.

Islam bukan lagi sumber kepercayaan kepada Maha Pencipta, mereka sanggup jadi peragut, golongan yang menghina hukum Islam, mencaci keperibadian Nabi Muhammad dan bermacam-macam lagi, itu semua dianggap sebagai satu kepuasan dalam hidup mereka.

Sebenarnya bukan salah Islam yang menyebabkan mereka bertindak demikian, malah disebabkan tidak ada, mungkin juga kurang, disekat atau tidak berkesan penyampaian khutbah, tazkirah, ceramah atau forum agama hingga orang ramai tidak lagi menjadikan masjid sebagai lokasi persinggahan harian mereka.

Tidakkah pihak berkuasa sedar atau tidak akan fenomena ini yang sedang berlaku? Mengapa tidak mencari satu pendekatan atau dibuat analisis mengenai isu berkenaan? Sekurang-kurangnya bagi menyelesaikan satu daripada seribu permasalahan yang menimpa umat Islam hari ini.

Tazkirah kali ini, ingin mengajak semua pihak, terutamanya para pemerintah, golongan intelek, masyarakat amnya, serta para pelajar akan kepentingan khutbah, peranan serta kesannya terhadap pembentukan dan pembinaan umat seperti yang pernah dilahirkan oleh Madrasah Muhammad di zaman kegemilangan Islam.

Khatib yang tidak berkesan

1- Tidak memilih tajuk yang menepati tuntutan semasa.

2- Tajuk khutbah mirip dengan apa yang diajarkan di sekolah. 3

– Penyampaian khutbah terlalu panjang dan membosankan.

4- Pengungkapan isi khutbah berulang-ulang kali.

5- Khatib tidak amalkan apa yang disampaikan.

6- Tidak menguasai realiti semasa, khususnya isu yang terjadi kepada umat Islam.

7- Penekanan khutbah hanya untuk menunjukkan sikap ampu kepada pihak tertentu.

8- Tidak menguasai ilmu-ilmu agama dengan baik.

9- Tidak mampu menyelesaikan sesuatu masalah apabila dikemukakan isu tertentu.

10- Bersikap negatif terhadap orang ramai.

11- Tidak menghayati khutbah yang disampaikan kerana hanya membaca teks sahaja. Rasulullah s.a.w apabila menyampaikan khutbah, tidak panjang berjela-jela, malah ia pendek dan padat, yang penting baginda memanjangkan solat Jumaat dan baginda sendiri marah mereka yang terlalu memanjangkan penyampaian khutbah.

Ciri khatib yang berjaya: Persediaan semasa berkhutbah

1- Khatib merasakan bahawa dengan penyampaian khutbahnya yang bernas dan berkesan sebagai satu tanggungjawab dalam aspek dakwah.

2- Menghafal atau sekurang-kurangnya menguasai ayat-ayat al-Quran yang berhubung dengan isu yang disampaikan.

3- Menghafal sebahagian besar hadis-hadis nabi Muhammad s.a.w.

4- Menguasai cerita-cerita dalam al-Quran yang boleh dijadikan rujukan dalam khutbah yang disampaikan.

5- Mempelbagaikan teknik penyampaian dengan isi kandungan yang menepati cita-rasa pendengar dengan tidak menjadikan mereka bosan dan tertidur.

6- Menjadi role-model kepada masyarakat dalam segenap tindak-tanduknya dan mempunyai hubungan yang baik dengan mereka.

7- Berani menyatakan kebenaran tanpa rasa terikat dengan mana-mana pihak.

8- Penyampaian khutbah yang padat hingga meninggalkan kesan kepada pendengar.

9- Pemilihan tajuk khutbah yang relevan dengan tuntutan semasa hingga mampu menyelesaikan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

10- Penyampaian yang cukup terang dan memuaskan hati pendengar.

11- Penampilan yang baik dan positif.

12- Persediaan tajuk, isi dan penyampaian yang amat baik.

13- Mampu menyedia dan berkhutbah dengan bahan khutbah yang berkualiti.

14- Mampu mengadaptasi sirah Nabi Muhammad s.a.w dalam realiti hidup masyarakat hari ini.

15- Apabila bercakap tentang Syurga, segala sifat ahli Syurga diterjemahkan dalam kenyataan hidupnya sebagai muslim sejati.

16- Apabila bercakap tentang Neraka, segala sifat ahli Neraka dijauhinya dan mengingatkan masyarakat agar sentiasa berwaspada mengenainya. Persediaan di luar masa khutbah

17- Menguasai kepelbagaian ilmu, sama ada ilmu agama, teknologi maklumat, psikologi dan mengikut perkembangan semasa dari dalam dan luar negara.

18- Khatib yang disukai masyarakat.

19- Mempunyai hubungan baik dengan Allah SWT, khususnya dalam meningkatkan mutu ibadat kepada-Nya.

20- Mampu mengajak masyarakat untuk mencintai Nabi Muhammad s.a.w serta ahli keluarga baginda.

21- Suka mengadakan majlis-majlis ilmu hingga dinilai positif oleh mereka.

22- Mendapat tempat dalam hati masyarakat.

23- Mengambil tahu masalah mereka dan menanganinya dengan baik.

24- Menunaikan segala tanggungjawab yang diamanahkan kepadanya.

25- Memiliki hemah yang tinggi terhadap agama.

26- Tidak menggelabah ketika menghadapi sesuatu isu dan permasalahan.

27- Bersedia menjadi tempat rujukan masyarakat dalam pelbagai masalah, hingga disenangi oleh golongan muda, tua, kanak-kanak, lelaki mahupun perempuan.

28- Memahami Islam dengan sifatnya yang universal.

29- Mampu membangkitkan kesedaran beragama kepada segenap lapisan masyarakat hingga menimbulkan rasa benci kepada sebarang bentuk permusuhan terhadap Islam.

30- Menggunakan bahasa yang amat disenangi oleh orang yang mengelilinginya.

Tetapi mengapa masyarakat hari ini masih tidak menjadikan masjid atau surau tempat untuk mendapatkan ketenangan jiwa? *Sebab merasakan khatib tidak menjadi rujukan yang baik kepada masyarakat di sekelilingnya. *Pengurusan masjid atau surau yang bercelaru kerana pihak pentadbiran serta ahli jawatankuasanya bukan ahli, malah hilang kelayakan untuk mentadbir seperti yang difirmankan Allah menerusi ayat 18 surah at-Taubah :

18. Hanyasanya yang layak memakmurkan (menghidupkan) masjid-masjid Allah itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat serta mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan tidak takut melainkan kepada Allah, (dengan adanya sifat-sifat yang tersebut) maka adalah diharapkan mereka menjadi dari golongan yang mendapat petunjuk. *Kurang ada sifat mesra antara para pentadbir dengan orang ramai yang dianggap sebagai beban kepada mereka. *Kurangnya program pengisian masjid seperti kuliah agama, ceramah, forum ataupun diskusi ilmu. *Peruntukan wang masjid lebih tertumpu kepada pembangunan fizikal masjid, malah kurang untuk digunakan bagi tujuan pembangunan insan, ia juga merupakan antara faktor yang dikenal-pasti kurangnya kehadiran masyarakat ke rumah Allah.

Adab-adab para khatib

1- Tidak menyembunyikan kebenaran.

2- Khatib seorang yang menguasai dan mendalami ilmu-ilmu alat (fardu Ain).

3- Berlaku adil terhadap semua manusia sebagai sasaran dakwahnya.

4- Tidak mengaib atau menyebut nama orang tertentu dalam khutbahnya.

5- Penyampaian khutbah penuh dengan peringatan, nasihat dan tunjuk ajar.

6- Menginsafkan pendengar dengan ayat-ayat yang menusuk jiwa mereka.

7- Tidak menimbulkan keraguan pendengar terhadap isi yang disampaikan.

8- Bersedia menerima teguran dengan sikap terbuka jika tersalah menyampaikan fakta isi ketika berkhutbah.

9- Tidak ada perasaan riyaa atau ujub dengan isi khutbah, kononnya ia diterima umum dengan baik sekali.

10- Membuat persediaan khutbah dengan amat baik agar tidak merangkak-rangkak ketika menyampaikannya.

11- Seorang yang berfikiran waras dan terbuka.

12- Seorang yang tegas dengan setiap ungkapan, sama ada di dalam atau di luar khutbah.

13-Tidak berbelah bagi untuk menyayangi setiap manusia tanpa mengira bulu atau warna kulit.

14- Memiliki kefahaman psikologi masyarakat dengan amat baik.

15- Banyak mengkaji, mentelaah dan menganalisisi isu-isu semasa.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 14 November 2008 in FIQAH ISLAM, SINAR JUMAAT

 

Haji dan Ideologi Kekuasaan

Dr. Daud Rasyid, MA

Haji adalah salah satu rukun Islam. Dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin al-Khattab, urutannya ada pada yang kelima setelah puasa. Tapi dalam Hadits Ibnu Umar, posisinya ada pada urutan ke empat, sebelum puasa.

Kekhasan haji sebagai ibadah Mahdhah antar lain disebabkan, karena ia menggabungkan dua unsur sekaligus; fisik dan finansial (ibadah jasadiyah wa maaliyah). Berbeda dengan Shalat dan puasa yang hanya melibatkan fisik (ibadah jasadiyah). Juga berbeda dengan zakat yang semata-mata ibadah maaliyah tanpa melibatkan jasad.

Jadi haji memang ibadah yang unik. Seseorang yang hanya memiliki kemampuan fisik atau dana saja, tidaklah menjadi jaminan untuk menunaikan haji. Sekian banyak orang sehat, tapi tidak memiliki dukungan maaliyah, begitu juga sebaliknya, akhirnya mereka tidak dapat berhaji.

Juga menarik, satu-satunya rukun Islam yang diambil menjadi nama surat dalam Alqur’an hanyalah haji dengan surat al-haj.

Ada poin essensial dalam haji yang justru banyak dilupakan orang termasuk yang melakukan manasik itu sendiri, yaitu ketergantungan (tidak sekedar keterkaitan) haji dengan Tauhid.

Adalah jarang kita mendengar, dalam pelajaran manasik, masalah haji dan tauhid dibahas. Yang lebih dominan adalah pembahasan haji dari sudut pandang hukum (fiqh), mempersoalkan mana yang rukun, wajib dan sunnat haji?

Umpamanya, bagaimana kalau wudhu’ batal di tengah tawaf, karena bersenggolan dengan wanita yang bukan mahramnya, dalam mazhab Syafii. Bagaimana batu yang digunakan untuk melontar Jamrah, bukan dari Muzdalifah, dan persoalan yang sejenisnya.

Padahal, haji mengandung pelajaran penting bagi ‘Aqidah seorang Muslim. Seharusnya, yang banyak diperhatikan oleh jamaah haji adalah evaluasi terhadap pemahaman tauhid yang ada pada diri masing-masing. Apakah pemahamannya selama ini tentang syahadat tauhid sudah benar atau belum.

Jika ilmu tentang syahadat sudah ia miliki, bagaimana implementasinya dalam kehidupan? Apakah ilmu itu sudah membuahkan hasil tunduk dan pasrah secara mutlak kepada Allah Swt? Apakah mereka sudah benar-benar mengilahkan (menuhankan) Allah swt atau belum?

Jika ya, niscaya akan terlihat efeknya dalam sepak terjangnya. Bila ia seorang politisi, tentunya ia tidak akan haus jabatan dan pemburu kekuasaan. Jika ia seorang pebisnis, tentu ia tidak menuhankan keuntungan materi.

Jadi pertanyaan-pertanyaan ini perlu dihidupkan terus menerus oleh para jamaah, agar kepergiannya ke tanah haram membuahkan hasil berupa perubahan dalam garis hidupnya. Tanpa melakukan ini, besar kemungkinan tidak ada yang berubah, sehingga setelah ia kembali dari haji, mentalnya sama seperti ketika ia belum berangkat.

Jika ia melakukan korupsi sebelum haji, maka setelah hajipun perbuatan haram itu masih tetap berlanjut. Jika sebelum haji, ia hampir tidak pernah datang ke masjid, maka setelah hajipun ia juga jarang berjamaah ke masjid.

Tidak sedikit muslim bahkan aktifis Islam, yang bolak balik haji dan umroh (bahkan iktikaf asyrul awakhir bulan Ramadhan di Masjidil Haram), tapi sesampainya di tanah air, watak aslinya tetap muncul, enggan salat berjamaah di Masjid, ambisi kekuasaannya sampai ke ubun-ubun, kehausannya pada kesenangan duniawi mengalahkan kaum kuffar.

Manusia semacam ini, jelas mengkhianati iqrar tauhid yang ia ucapkan dalam manasik haji atau umroh.

Ada sejumlah praktik manasik yang sangat kental nuansa Tauhidnya, kendatipun secara umum manasik sebenarnya, berkait erat dengan wahdaniyah Allah Swt., antara lain:

1. Lafaz Talbiyah.

Pertama sekali pelajaran tauhid ada dalam kalimat talbiyah yang dikumandangkan setiap muhrim (pemakai ihram), baik haji ataupun umroh.

Dalam kalimat itu, dua kali berulang ungkapan ‘La Syarika lak’ (tidak ada sekutu bagiMu). Sebuah deklarasi penolakan terhadap segala bentuk penuhanan pada selain Allah Swt. Ini berarti orang tersebut tidak akan menuhankan kekuasaan, materi, harta, hawa nafsu, dan Ilah-ilah lainnya.

Namun jika fakta di lapangan menunjukkan berbeda dengan iqrar tersebut, berarti di sana sedang terjadi pengkhianatan, atau lebih halusnya, sedang berlangsung pemupukan kemunafikan. wal ‘iyazu billah.

2. Tawaf.

Apalagi jika kita renungkan tawaf (mengelilingi) baitullah, maka suhu tauhid semakin membara di dalam kalbu muhrim. Dari awal putaran ia mulai dengan kalimat Takbir: ‘Bismillah Allahu Akbar’. Yang besar di matanya hanya Allah. Semua makhluk adalah kecil. Pikirannya menjadi terpusat pada Robb hazal bait (Pemilik rumah Allah). Lidahnya hanya mengucapkan pujian, tasbih, mengakui kemaha agungan Allah swt.

3. Figur Sejarah.

Tak kalah pentingnya dalam pengokohan tauhid pada ibadah haji, ialah Nabi Ibrahim sebagai figur yang banyak terkait dengan asal usul manasik. Mulai dari upaya keras membangun ka’bah. Berlari bolak balik dari Safa ke Marwa. Melempar jamrah yang diambil dari praktik melempar syaitan yang menggoda Ibrahim a.s agar menggagalkan penyembelihan anaknya Isma’il a.s.

Ada apa dengan Ibrahim? Ia adalah figur yang menjadi simbol tauhid. Permusuhannya terhadap paganisme diabadikan di dalam alqur’an surat al-Anbiya’.

Pada awalnya ia hanya sendirian dengan tegar berani melawan kekuatan thoghut pada zamannya yang memaksakan kemusyrikan. Ibrahim melawannya dengan demonstratif. Ia hancurkan seluruh patung yang dipertuhan oleh kaumnya dan menyisakan hanya satu patung yang terbesar. Keberaniannya berdebat melawan raja dan melecehkan kaum paganis dengan menyuruh mereka bertanya kepada patung tentang pelaku pengrusakan Tuhan-tuhan mereka.

Ternyata dalam pandangan Allah, pendapat sedikit atau banyak orang sama sekali tidak ukuran bagi kebenaran. Belum tentu pendapat terbanyak itu benar dan pendapat sedikit orang itu salah. Bahkan Ibrahim di zamannya hanya sendirian, tapi di mata Allah ia dihitung ummat ‘inna Ibrahim kaana ummah’.

Jadi demokrasi yang mendasarkan pada pendapat terbanyak adalah prinsip yang batil. Kebenaran tidak boleh diukur dari jumlah pendukungnya, tetapi diukur dari esensi sebuah pendapat. Jika ia diusung oleh hujjah yang kuat, maka itulah kebenaran, sementara pendapat yang didukung oleh hawa nafsu dinilai salah dan runtuh, walaupun pendukungnya mayoritas.

Sikap Ibrahim dan pengikutnya mendapat pujian langsung dari Allah swt dan di dalam surat al-mumtahanah. Kita disuruh untuk meneladaninya, wabil khusus sikap ideologisnya yang tak mengenal kompromi.

Ibrahim dan pengikutnya dengan tegas mengatakan: ‘Kami berlepas dari kalian dan dari sembahan kalian. Kami menolak kamu dan telah tampak permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian untuk selamanya sampai kalian beriman hanya kepada Allah.’ Masya Allah, sungguh menggetarkan ketegasan Nabi Ibrahim dalam bersikap menghadapi musuh aqidah mereka, yakni tidak menerima kompromi, menampakkan permusuhan dan kebencian, hingga mereka mau beriman hanya kepada Allah swt.

Andaikan sikap Ibrahim ini dipelajari dan dipraktikkan oleh kaum Muslimin, paling tidak mereka yang berhaji dan umroh, niscaya akan terjadi perubahan besar dalam visi dan pandangan hidup mereka. Aqidah mereka semakin kokoh, iltizam mereka semakin kuat, komitmen mereka semakin jelas.

4. Dalam berbagai praktik manasik, tampak pelajaran tauhid melalui kepasrahan (al-inqiyad) dan taat yang sempurna.

Setiap orang yang berhaji menampakkan kepasrahan pada aturan yang ditentukan oleh Allah, tanpa catatan, debat atau protes, betapapun terasa berat. Kita diperintah berjemur di Arafah di siang hari, menginap malam hari di Muzdalifah, melempar jumrah dalam jumlah yang besar, dilanjutkan dengan tawaf ifadhah. Semua ini dilaksanakan dengan pasrah dan patuh, karena perintahnya datang dari Allah dan RasulNya.

Kepatuhan dan penerimaan itu adalah tolok ukur utama mengetahui tauhid seseorang. Orang yang bertauhid senantiasa pasrah dan patuh pada ketentuan Allah. Ia tidak mengatakan, saya akan patuh pada aturan Allah jika saya telah mengerti betul seluk beluk aturan itu.

Akan halnya perintah manusia, memang sikap kritis (ala bashiroh) itu harus ditunjukkan, agar tidak hanyut dibawa oleh arus yang menyesatkan. Karena pertanggung jawaban di hari Akhirat bersifat personal bukan bersama. Kesalahan bawahan tidak ditimpakan kepada pimpinannya, sekalipun itu disebabkan karena menjalankan sebuah perintah. Wala taqfu malaysa laka bihi ilmun, innassam’a wal bashara wal fu’ada kullu ula’ika kana anhu mas’ula.

Lalu kenapa kepatuhan itu hanya sebatas pada manasik saja, tidak meliputi ketentuan-ketentuan syari’at lainnya, seperti bertahkim kepada hukum Allah swt.?

Di sinilah kita harus evaluasi kembali, bahwa penanaman tauhid dalam haji dan umroh harus diutamakan ketimbang persoalan fiqh yang bersifat furu’.

Seharusnya setiap orang yang kembali dari haji dan umroh akan semakin kuat tauhid dan komitmen keislamannya dalam sikap dan perjuangannya. Namun jika ada yang kembali umroh semakin kabur identitas keislamannya, pertanda ibadahnya hanya sia-sia.
Nas’alullah al-‘Afwa wal ‘afiyah

 
Tinggalkan komen

Posted by di 14 November 2008 in FIQAH ISLAM, SINAR JUMAAT

 

Mukaddimah Fi Zhilal Quran (4)

Al-Haq (Kebenaran) dalam Manhaj Allah merupakan dasar bangunan semesta ini. Ia bukan ada sekonyong-konyong dan tidak pula secara kebetulan tanpa maksud. Sesungguhnya Allah itu adalah al-Haq. Semua yang ada di jagad raya ini keberadaannya bersumber dari keberadaan-Nya.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS Al-Hajj : 62)

Sesungguhnya Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan haq dan tidak tercampur sedikitpun dengan bathil (kebatilan).

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى

Tidakkah mereka memikirkan dalam diri mereka bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi ini dan apa yang ada di atntara keduanya kecuali dengan haq dan batas yang sudah ditentukan… (QS Ar-Rum : 8)

Sebab itu, al-Haq adalah pilar alam semesta. Bila menyimpang darinya, maka alam ini akan rusak dan hancur.

َلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ

Sekiranya al-haq itu mengikuti hawa nafsu (kemauan) mereka, niscaya rusaklah langit dan bumi dan siapa saja yang ada di dalamnya… (QS Al-Mukminun : 71).

Sebab itu, al-Haq itu harus menang dan al-Bathil itu harus lenyap. Kendati fenomena yang nampak bukan seperti itu, namun endingnya akan terlihat dengan jelas.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarnya Kami melontarkan yang al-Haq kepada al-Bathil, lalu yang al-Haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang al-Bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). (QS Al-Anbiya’ : 18)

Sesungguhnya kemabali kepada Allah – sebagaimana nampak saat hidup di bawah naungan Al-Qur’an – hanya satu konsepsi dan satu jalan…. Tidak ada yang lain…. Itulah kembali secara total dalam hidup ini berdasarkan manhaj Allah yang dititahkan-Nya untuk manusia sesuai apa yang tercantum dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an). Menjadikan Al-Kitab ini sebagai dasar dan sumber hukum mereka dalam kehidupan ini. Berhukum kepadanya saja dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup ini. Jika tidak, keruskan yang akan terjadi di muka bumi – seperti yang kita saksikan saat ini-, celaka bagi manusia, terbenam dalam lembah kehinaan dan terjebak mengikuti Jahiliyah yang menyembah hawa nafsu sebagai tuhan selain Allah.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (50)

Maka jika mereka tidak menjawab (seruanmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS Al-Qashash : 50)

Sesungguhnya berhukum pada manhaj Allah yang ada dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an) bukanlah perkara sunnah atau tathowwu’ (suka rela) dan tidak pula sebagai pilihan. Melainkan perkara beriman atau tidak beriman.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab : 36)\


ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (18) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (19) هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (20)

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang orang yang tidak mengetahui () Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. ()Alquran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS Al-Jatsiyah : 18 – 20 )

Nah, masalahnya amat serius… Ia pada dasarnya adalah masalah akidah… Kemudian baru masalah kebahagiaan dan kesengsaraan manusia…

Sesungguhnya manusia ini ciptaan Allah. Tidak mungkin terbuka kunci-kuci fitrahnya kecuali dengan anak-anak kunci yang yang diciptakan Allah pula. Tidak mungkin dapat mengobati penyakit-penyakitnya kecuali melalui obat yang diciptakan Tangan-Nya. Allah menciptakan kunci-kunci itu hanya dalam manhaj-Nya yang akan membuka setiap gembok dan obat bagi setiap penyakit.

Sesungguhnya di sana ada segolongan manusia yang suka menyesatkan dan menipu. Mereka adalah musuh kemanusiaan. Mereka meletakkan manhaj Allah di atas daun timbangan dan hasil-hasil penemuan manusia dalam dunia materi di atas daun timbangan yang satu lagi. Kemudian mereka berkata : Pilihan… Pilihan… Pilih manhaj Allah dalam hidup ini dan tinggalkan semua yang diciptakan tangan manusia dalam dunia materi. Atau ambil semua buah pengetahuan manusia dalam dunia materi dan tinggalkan manhaj Allah..

Ini adalah tipuan yang amat kotor dan menjijikkan… Letak perkaranya sama sekali bukanlah seperti itu. Manhaj Allah itu tidak pernah memusuhi hasil karya manusia. Akan tetapi, Manhaj Allah itu adalah sumber karya dan penemuan itu dan mengarahkannya ke arah benar. Yang demikian itu agar manusia bangkit sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini.

Itulah maqam (kedudukan) yang amat mulia yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Maqam tersebut merupakan power (kekuatan) yang tersimpan sebagai kompensasi atas kewajiban yang dibebankan pada mereka. Lalu Allah berikan kemampuan kepada manusia untuk menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi ini melalui sistem yang ditentukan-Nya sehingga manusia mampu merealisasikannya. Di samping itu, Allah juga mensingkronkan antara penciptaan manusia dengan penciptaan alam semesta agar mereka mendaptkan hak hidup, bekerja dan berkarya, dengan landasan bahwa karya tersebut mesti dalam rangka ibdah kepada Allah, sebagai sarana syukur mereka terhadap nikmat yang melimpah dari-Nya dan terikat pula dengan akad kekhalifahan mereka di atas bumi. Di antara isi akad tersebut ialah, bahwa manusia bekerja dan berkarya harus dalam frame ridha Allah.

Adapun mereka yang menaruh manhaj Allah di atas daun timbangan dan karya manusia dalam dunia materi di atas daun timbangan yang lain, mereka sebenarnya memiliki niat jahat karena mereka sendiri orang-orang jahat yang berupaya selalu mengusir mansusia yang sedang letih dan bingung setelah capek dari terlunta-lunta, kebingungan dan kesesatan. Padahal jiwa mereka sebenarnya merindukan untuk mendengar suara Penasehat Tunggal (Allah), kembali dari tersesat yang mebahayakan dan mendaptkan ketenagan pangkuan Allah.

Sementara di sana ada lagi sekelompok lain yang kekurangan mereka bukan pada niat, akan tetapi merka kurang memiliki pengetahuan yang syamil (konprehensive) dan pemahaman yang mendalam. Mereka terperangah melihat apa yang dicapai oleh manusia dari penemuan-penemuan kekuatan dan sistem-sistem alam semesta ciptaan Allah. Mereka kagum sekali menyaksikan keberhasilan-keberhasilan manusia dalam dunia materi. Kekaguman itu telah membuat dalam diri mereka pemisahan antara kekuatan alam dan kekatan nilai keimanan, efektifitasnya dan pengaruhnya dalam fakta alam dan realitas kehidupan. Lalu mereka menjadikan sistem-sistem alam ini menjadi satu bagian dan nilai-nilai keimanan menjadi bagian lain. Mereka menduga bahwa sistem alam ini berjalan di jalannya tanpa terpengaruh oleh nilai-nilai keimanan. Hasilnya akan sama bagi manusia beriman atau kafir. Apakah mereka mengikuti manhaj Allah atau melanggarnya. Apakah mereka berhukum pada syariat Allah atau dengan syari’at hawa nafsu mansia…

Pendapat seperti itu adalah dugaan belaka, karena memisahkan antara dua sistem Allah yang pada hakekatnya tidaklah terpiasah. Nilai-nilai keiman itu juga bagian dari sistem Allah seperti halnya sistem-ssitem yang ada dalam alam semesta. Hasilnya juga saling terikat. Dan tidak ada alasan memisahkan antara keduanya dalam perasaan dan konsepsi seorang Mukmin.

Inilah konsepsi yang benar yang dibangun Al-Qur’an dalam diri Anda saat Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Al-Qur’an membangunnya saat bicara tentang Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang hidup di masa lampau, penyimpangan mereka dan pengaruh penyimpangan tersebut pada akhir perjalanan mereka.


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (66)

Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga surga yang penuh kenikmatan.() Dansekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Alquran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan . Dan alangkah buruknya apa yang dkierjakan oleh kebanyakan mereka.(QS Al-Maidah : 65 – 66)

AL-Qur’an membangun konsepsi itu saat bicara tentang janji Nabi Nuh pada kumnya.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا () يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا () وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ()

maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun -,() niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,() dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalam-nya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10 – 12)

Al-Qur’an membangun konsepsi tersebut saat bicara tentang adanya ikatan antara realitas jiwa manusia dengan realitas di luar diri mereka yang Allah ciptakan bagi mereka.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi suatu kaum sehingga mereka merubah (kelemahan) yang ada dalam diri mereka sendiri.. (QS Ar-Ra’d : 11)

Sesungguhnya iman kepada Allah, ibadah kepada-Nya dengan istiqamah, menerapkan syari’at-Nya di atas bumi ini… semuanya merupakan realisasi sistem-sitem Allah. Sistem-sitem yang memiliki efektifitas positif yang mucul dari sumber yang sama dengan istem kauni yang kita lihat pengaruhnya melaluai perasaan/pengalaman dan laboratarium.

Sesungguhnya syari’at Allah merupakan bagian dari sistem Allah secara keseluruhan yang ada dalam alam semesta ini. Menerapkan syari’at tersebut pasti memberikan pengaruh positif dalam perjalan alam dan kehidupan manusia. Syaria’ tersebut merupakan buah dari iman yang tidak mungkin berdiri sendiri tampa dasar/pokoknya yang amat besar. Sebab itu, syari’at Allah diciptakan untuk diterapkan dalam amsyarakat Islam, sebagaiman ia juga diciptakan untuuk berperan dalam membangun masyarakat Islami.

Syariat tersebut juga sempurna bersama konsepsi Islam terhadap alam semesta dan terhadap manusia. Apa yang dibangun oleh konsep tersebut ialah taqwa dalam hati, bersih dalam perasaan, fokkus kepada hal-hal besar, ketingian akhlak, konsistensi dalam prilaku. Dan begitulah seterusnya nampak jelas kesmpurnaan dan keselarasan antara sistem-sitem Allah, bersamaan apa yang kita namakan dengan hukum alam dengan apa yang kita namakan dengan nilai-nilai keimanan. Semuanya merupakan bagian dari sunnatullah (sistem Allah) yang konprehensive bagi alam semesta ini.

Manusia juga sebuah kekuatan dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam semesta. Amalnya, kehendaknya, imannya, kebaikannya, ibadahnya dan aktivitsnya semuanya merupakan kekuatan yang memiliki pengaruh positif di alam ini dan terkait dengan sunnatullah yang ada di alam ini secara keseluruhan. Semuanya bekerja secara serasi. Ia akan memeberikan buah secara sempurna bilamana kekuatan-kekuatan itu berhimpun dan harmonis. Demiakian juga akan melahirkan pengaruh negatif, mengalami kegoncangan dan merusak kehidupan serta menyebarkan kesakitan di antara manusia ketika berbagai kekuatan itu tercerai berai dan saling bertabrakan.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al-Anfal : 53)

Maka ikatan antara perbutan manusia dengan perasaannya dan atara peristiwa-peristiwa yang terjadi sangatlah kuat dalam sistem Allah yang syamil. Sebab itu, tidak ada inspirasi pemisahan ikatan ini. Tidak pula ada seruan untuk membuatnya tidak harmonis dan tidak ada juga batas antara manusia dan sunnatullah yang berlaku kecuali musuh manusia yang menjauhkannya dari petunjuk (hudan). Hal seperti itu pantas disingkirakan dari jalan menuju Rab (Tuhan Pencipta) yang Maha Mulia.

Inilah sebaigian lintasan pikiran dan perasaan yang lahir dari masa hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Semoga Allah memberinya manfaat (bagi pemca) dan memberinya petunjuk. Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali jika Allah menghendakinya.

Sayyid Qutb

 
Tinggalkan komen

Posted by di 7 November 2008 in SINAR JUMAAT, TAFSIR QURAAN