RSS

Category Archives: TAFSIR QURAAN

Renungan hari ini

“Tidakkah kamu melihat bagaimana segala yang di langit dan di bumi menyanjung Allah,
dan burung-burung mengembangkan sayap-sayap mereka?  (24:41)

 
Tinggalkan komen

Posted by di 12 Mei 2010 in TAFSIR QURAAN

 

Hukum Bersekutu dengan Orang Munafik

Makna Surat An Nisaa Ayat 138 – 140

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿١٣٨﴾
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ العِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعًا ﴿١٣٩﴾
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللّهِ يُكَفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُواْ مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ﴿١٤٠﴾

Artinya : “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An Nisaa : 138 – 140)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna dari firman Allah swt بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” yaitu bahwa orang-orang munafik yang memiliki sifat : beriman kemudian kafir maka hati mereka tertutup kemudian Allah mensifatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dengan meninggalkan orang-orang beriman artinya bahwa mereka (orang-orang munafik) pada hakekatnya bersama mereka (orang-orang kafir), memberikan loyalitas dan kasih sayangnya kepada mereka lalu jika bertemu dengan mereka maka orang-orang munafik itu mengatakan,”Sesungguhnya kami bersama kalian, sesungguhnya kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman dengan penampilan kami yang seolah-olah sejalan dengan mereka.” Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komen

Posted by di 26 Disember 2009 in FIQAH ISLAM, TAFSIR QURAAN

 

Al-Baqarah dan Kebenaran Semua Agama

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُون

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqoroh : 62)

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالصَّابِؤُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وعَمِلَ صَالِحًا فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Maidah : 69) Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komen

Posted by di 21 Disember 2009 in TAFSIR QURAAN

 

QS. an-Nuur Ayat 3 – Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina

Oleh :  Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Firman Allah swt :

Artinya : “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An Nuur : 3)

Al Qurthubi didalam tafsirnya menyebutkan bahwa “Mirtsad al Ghanawiy” pernah membawa para tawanan di Mekah—lalu dia meminta izin pada Nabi saw untuk menikah dengan ‘Annaq seorang pelacur—yang mencari penghasilan dengan cara berzina.

Maka Nabi saw membacakan ayat ini dan bersabda.”Jangan engkau nikahi dia.” (HR. Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasa’i dan al Hakim)

Al Khottibi mengatakan bahwa ini adalah khusus terhadap wanita ini yang masih kafir. Adapun terhadap seorang wanita muslimah pezina maka sesungguhnya aqad terhadapnya adalah sah dan tidak batal. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komen

Posted by di 9 Disember 2009 in TAFSIR QURAAN

 

Islam Terpecah 73 Golongan

Firman Allah swt :

Tafsir Surat Al Anbiya : 93

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ ﴿٩٢

وَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ كُلٌّ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ ﴿٩٣

فَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ ﴿٩٤

Artinya : “Sesungguhnya (agama tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku. Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. kepada kamilah masing-masing golongan itu akan kembali. Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, Maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Sesungguhnya kami menuliskan amalannya itu untuknya.” (QS. Al Anbiya : 92 – 94) Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komen

Posted by di 29 Julai 2009 in TAFSIR QURAAN

 

Quraan hari ini – 18 Rabiul Akhir 1430

16-90

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, dan berbuat ihsan, serta memberi bantuan kepada kaum kerabat; dan melarang daripada melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar serta kezaliman. Dia mengajar kamu (dengan suruhan dan larangan-Nya ini), supaya kamu mengambil peringatan mematuhi-Nya” [al-Nahl 16: 90]

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komen

Posted by di 13 April 2009 in TAFSIR QURAAN

 

Quraan hari ini – 14 Rabiul Akhir 1430

al-hajj-22_11

“Dan ada di antara manusia yang menyembah Allah dengan sikap dan pendirian yang tidak tetap, iaitu kalau ia beroleh kebaikan, senanglah hatinya dengan keadaan itu; dan kalau pula ia ditimpa fitnah kesusahan, berbaliklah ia semula (kepada kekufurannya). (Dengan sikapnya itu) rugilah ia akan Dunia dan Akhirat. Itulah kerugian yang terang nyata” [al-Hajj 22: 11]

 
Tinggalkan komen

Posted by di 10 April 2009 in TAFSIR QURAAN

 

Tafsir Al Fath dan Fenomena Kekalahan

Makna Kemenangan

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا ﴿١﴾
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا ﴿٢﴾
وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا ﴿٣﴾


Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al Fath : 1 – 3)

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komen

Posted by di 3 Februari 2009 in TAFSIR QURAAN

 

Orang-orang dan Hal-hal yang Allah Tidak Suka

Al Quran (4) An Nisaa’ : Ayat 148
Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (QS. 4:14

Al Quran (7) Al A’raaf : Ayat 31
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. 7:31) Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komen

Posted by di 2 Februari 2009 in TAFSIR QURAAN

 

” Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup “

” Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup “

Allah berfirman yang artinya:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” ( QS. al-Ma’idah: 48).

Syaikh As-Sa`di di dalam tafsirnya mengatakan:

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu Kami telah berikan” wahai segenap umat, “aturan dan jalan” yakni jalan dan sunnah.

Imam Ath-Thabari menafsirkan:

“Tiap-tiap umat di antara kamu Kami jadikan baginya syari`at (ajaran) yang mereka amalkan dan jalan yang jelas yang mereka lalui”.

Sekilas tentang tulisan ini …

Segala puji bagi Allah Rabb bagi semesta alam. Aku memohon semoga shalawat dan salam tetap Allah limpahkan kepada Rasul termulia,penghulu para nabi, yaitu Muhammad bin Abdillah,wa ba`du:

Sesungguhnya benak dan buah fikiran setiap muslim –yang mencintai kebaikan bagi dirinya dan bagi kaum muslimin- adalah bagaimana seharusnya ibadah-ibadah, mu’amalat, etika dan akhlaknya bersumber dan terpancar dari cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Salam.

Dan hendaknya ia tidak berhenti pada batas membaca dan menghafal ayat-ayatnya saja, akan tetapi lebih dari itu, sampai pada perealisasian makna dan kandungan ayat-ayatnya ke dalam segala ucapan, perbuatan, prilaku dan mu’amalat dalam berbagai aspek medan kehidupan, di masjid, di rumah, di tempat kerja, di jalan raya, di sekolah, dan seterusnya.

Mudah-mudahan buku kecil yang sangat singkat ini dapat menjadi konstribusi dan pelajaran bagi penulisnya dan bagi siapa saja dari saudara-saudaranya yang seiman dan seagama yang membacanya, dan sebagai sarana introspeksi diri dan evaluasi terhadap kondisi masing-masing kita terhadap Kitabullah (Al-Qur’an) dan pengaruhnya di dalam realitas kehidupan-nya. Dan untuk selanjutnya kita dapat menghabiskan sisa umur kita untuk memperbaiki diri kita dan mene-rapkan akhlaq Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Salam pada diri kita, yaitu sunnah Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Salam yang akhlaknya adalah Al-Qur’an.

Dan hanya kepada Allah jualah penulis memohon untuk penulis dan segenap kaum muslimin agar dikaru-niai sikap istiqamah dan berpendirian teguh dalam beragama sampai ajal menjumpai kita, dan

semoga Dia mengaruniakan keikhlasan dalam perkataan dan perbu-atan kepada kita semua. Amin.

Kondisi Kita Saat Ini Terhadap Al-Qur’an:

Segala puji bagi Allah Rabb bagi sekalian alam; aku bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Rabb bagi sekalian alam. Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan pesuruh Allah, yang diutus dengan membawa Al-Qur’an yang nyata, Al-Qur’an pembeda antara petunjuk dan kese-satan, antara benar dan salah dan antara keraguan dan keyakinan.

Allah menurunkannya supaya kita membaca-nya dengan penuh penghayatan, merenungkannya dengan penuh hikmat, kita bahagia dengannya karena kita jadikan sebagai pelajaran, kita memperlakukannya sebaik mungkin, dan meyakini (kebenarannya) serta berusaha keras untuk menegakkan perintah-perintah dan larangan-larangannya.[1]

Sangat banyak sekali orang yang membaca Al-Qur’an, namun anda tidak menemukan pengaruhnya pada prilaku, akhlak dan pergaulan mereka. Bahkan sebaliknya anda temui sebagian mereka akhlaknya tidak terpuji, pergaulan dan mu`amalatnya kasar dan kaku, baik terhadap keluarga, tetangga ataupun terhadap orang lain. Padahal, demi Allah….. itu bukan akhlak dan prilaku yang patut dimiliki oleh seorang muslim yang suka membaca dan menghayati Kitab Suci Al-Qur’an? Lalu dimana pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa mereka??!

Sesungguhnya berbagai musibah, malapetaka, cobaan yang bertubi-tubi dan berbagai bencana (gempa bumi dan lainnya) yang terjadi di berbagai negeri kaum muslimin adalah sebenarnya akibat dari jauhnya mereka dari Kitab Tuhannya, tidak menjadikannya sebagai acuan di dalam menyelesaikan permasalahan dan tidak mengamalkan kandungannya. Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang agung yang mendidik jiwa manusia, membentuk kepribadian bangsa, dan membangun kebu-dayaan.

Al-Qur’an merupakan cahaya yang diturunkan Allah supaya kita beriman dan meyakininya, mengambil pelajaran darinya dan agar kita mengamalkan petunjuk dan bimbingan yang terkandung di dalamnya, supaya kita keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Jadi, kesalahan dan aib terdapat pada pandangan kita yang tidak dapat melihat cahaya itu, disebabkan mata dan hati kita tertutup rapat dari petunjuk Al-Qur’an, cahaya dan keutamaannya yang tersimpan di dalam Kitab Suci ini:

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petun-juk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (Al-Isra’: 9 )

Ibnul Qayyim di dalam karyanya “Al-Fawa’id” berkata: “Setelah manusia (sebagian kaum muslimin. pent.) berpaling dan anti bertahkim (menjadikan sebagai undang-undang) kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi r dan berkeyakinan bahwa keduanya tidak cukup dan bahkan mereka lebih mengutamakan pendapat akal, analogi (qiyas), istihsan dan pendapat syaikh, maka hal itu menimbulkan kerusakan di dalam fitrah suci mereka, kegelapan di dalam hati mereka, kekeruhan di dalam pemahaman, dan kedunguan di dalam akal mereka, semua kondisi tersebut telah menyelimuti mereka sampai pada kondisi bahwa anak-anak dididik dalam keadaan dan kondisi seperti itu sedangkan orang-orang yang dewasa menjadi makin tua di atasnya.

Kondisi seperti itu tidak dianggap oleh mereka sebagai kemungkaran dan pada gilirannya datanglah kekuasaan berikutnya yang menjadikan bid`ah sebagai pengganti Sunnah, emosi sebagai pengganti akal, hawa nafsu sebagai pengganti petunjuk, kesesatan sebagai pengganti hidayah, kemunkaran sebagai pengganti yang ma`ruf, kebodohan sebagai pengganti ilmu, riya sebagai pengganti keikhlasan, kebatian sebagai pengganti yang haq, dusta sebagai pengganti kejujuran, berpura-pura sebagai pengganti nasihat dan kezhaliman sebagai pengganti keadilan. Maka yang dominan adalah perkara-perkara batil tersebut dan para pelakunya menjadi orang yang dihormati, padahal seb elumnya yang ditegakkan adalah sebaliknya dan para penegaknya mendapatkan acungan jempol dan pusat perhatian.[3]

Itulah potret kondisi umat manusia yang hidup dan disaksikan oleh Ibnul Qayyim pada paroh pertama dari abad kedelapan hijriyah. Lalu apa kiranya yang akan dikatakan oleh Ibnul Qayyim jika ia melihat pada kondisi kita sekarang?!  Sesungguhnya permasalahan sangat rumit dan memprihatinkan sekali, memerlukan langkah-langkah renungan terhadap etika, prilaku dan ibadah kita secara keseluruhan dan menimbangnya dengan neraca kitab Suci Al-Qur’an.

Dan setelah merenung dan memperhatikan tersebut, kita harus berintrospeksi diri (muhasabah) lalu memaksanya untuk tunduk dan patuh kepada Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad . Untuk merealisasikan itu semua, kita harus mema-hami beberapa hikmah dari diturunkannya Al-Qur’an Suci, yang jika kita telah mengetahui dan menga-malkannya, maka urusan-urusan agama dan dunia kita niscaya menjadi baik.

Kita dapat menyimpulkan hikmah dan tuntutan Al-Qur’an tersebut menjadi lima,yaitu :

Membaca Al-Qur’an sebagaimana diturunkan. Menghayati ayat-ayatnya. Mengamalkannya.

Sabar dalam menjalankan segala perintahnya. Berda`wah untuk menjadikannya sebagai aturan kehidupan.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 28 Disember 2008 in TAFSIR QURAAN

 

At Taubah 40-41 – Perintah berjuang waktu susah atau waktu senang

“Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah pun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Makkah) mengeluarkannya (dari negeriNya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita”. maka Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya. dan Allah menjadikan seruan (syirik) orang-orang kafir terkebawah (kalah Dengan sehina-hinanya), dan kalimah Allah (Islam) ialah yang tertinggi (selama-lamanya), kerana Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.”

“Pergilah kamu beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah), sama ada dengan keadaan ringan (dan mudah bergerak) ataupun dengan keadaan berat (di sebabkan berbagai-bagai tanggungjawab); dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kamu pada jalan Allah (untuk membela Islam), yang demikian amatlah baik bagi kamu, jika kamu mengetahui.” – surah at Taubah : 40-41

JIKA KAMU ENGGAN

Di dalam ayat ke 40 , Allah SWT telah memberikan penegasan bahawa jika tidak ada yang mahu menjadi penolong agama dan perjuangan Nabi SAW, maka Allah pasti akan menolong Rasulullah SWT dengan kekuatan dan qudrah yang tidak terlawan dan terbayang dek manusia. Di hujuang ayat ke 40, Allah telah memberikan janji dan kepastian kepada seluruh pejuang agama bahawa Allah pasti akan menjulang tinggi kalimah Allah yakni Islam dan Allah pasti akan mengalahkan seruan kufur dan syirik. Walaupun kemenangan itu lambat tiba, namun ia sesuatu yang pasti. Kebathilan itu tampak kuat namun ia tidak akan kekal. Kebenaran itu tampak lemah namun ia mendapat jaminan nusrah dan keteguhan dari Allah SWT.

Dr Hamka telah menjelaskan juga bahawa ayat ke 40 ini adalah ayat yang jelas turun untuk menjelaskan kedudukan Saiyyiduna Abi Bakr rdh sebagai umat nombor satu di sisi Rasulullah SAW. Ayat ini juga menggambarkan betapa mendalamnya cinta dan kasih Abu Bakr terhadap Rasulullah SAW yang tergembar melalui keresahan dan kerisauan beliau terhadap keselamatan Rasulullah SAW sewaktu mereka berdua bersembunyi di dalam Gua Tsur sehingga terpaksa ditenangkan oleh Rasullah SAW serta diperteguhkan keyakinannya kepada pertolongan dan nusrah dari Allah SWT.

WAJIB BERJUANG SAMADA BERAT ATAU RINGAN

Setelah Allah menegaskan pada ayat yang ke 40, bahwa meskipun kamu enggan menolong Rasulullah SAW dan para pejuang agama, Allah pasti akan menolongnya jua, Allah SWT dalam ayat berikutnya menjelaskan bahawa kita kita boleh menyerahkan saja kepada Allah untuk membela Nabi SAW dan menegakkan agama. Kita sendiri wajib berjuang melaksanakan perintah jihad samada ringan ataupun berat.

Menurut Imam Mujahid maksud ringan ialah kaya dan maksud berat adalah miskin sedang al Hasan menafsirkan ringan dengan maksud muda dan berat sebagai tua.

Zaid bin Ali dan al Hakam bin ‘Utbah bula memberi erti ringan ialah tidak banyak urusan yang merintangi dan berat adalah banyak urusan yang merintangi.

Menurut Zaid bin Aslam , ringan ialah yang belum berkeluarga dan berat ialah yang telah banyak tanggungan keluarga.

Menurut Ibnu Zaid pula, ringan ialah orang yang tidak mempunyai harta benda, berat ialah orang yang mempunyai banyak harta sehingga begitu payah dan susah untuk meninggalkannya.

Ayat yang ke 41 juga menjelaskan juga bahawa wajib kita mengorbankan harta dan nyawa dalam menegakkan agama Allah. Allah juga memberikan jaminan bahawa orang yang mengorbankan harta dan nyawa pada jalan Allah telah melakukan satu tindakan yang tepat dan baik.

Pengajaran ayat :

  • Allah SWT pasti akan memenangkan agamaNya walau kita tidak berjuang dan berjihad sekalipun. Maka kitalah yang akan beroleh kerugian disebabkan melepaskan peluang yang telah Allah berikan untuk mendapat pahala dan redha Allah melalui jihad, perjuangan dan pengorbanan harta dan nyawa.
  • Sedarlah bahawa tiada keringanan dan persoalan jihad dan perjuangan. Kecil, besar, tua , muda, kaya atau miskin dan siapa sahaja dari umat Muhammad, wajib bekerja dan berjuang menegakkan agama Allah SWT.
  • Setiap sen harta dan nyawa yang terkorban demi Islam akan mendapat nilai besar di sisi Allah.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 23 Disember 2008 in TAFSIR QURAAN

 

quran Surah Yusuf: 3 Kehidupan manusia: kriminalitas, seksual, dan kekuasaan

quran

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” ( Suruh Yusof ayat 3 )

Asbabun Nuzul

Al-Hakim meriwayatkan suatu hadits yang bersumber dari Sa’ad bin AbiWaqqash bahwa setelah sekian lama turun ayat-ayat al-Qur’an kepada Nabi saw dan dibacakan kepada para sahabat, mereka berkata, “Ya Rasulullah,bagaimana jika Anda bercerita kepada kami?” Maka Allah menurunkan surat Az-Zumar ayat ke-23, yang menegaskan bahwa Allah Swt telahmenurunkan sebaik-baikcerita. ..

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’anyang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanyakulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, dan menjadi tenang kulitdan hati mereka tatkala mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengankitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yangdisesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.”( Surah -Zumar: ayat 23 )

Menurut Ibnu Abi Hatim, para sahabat masih bertanya lagi, “Ya Rasulullah,bagaimana kalau Anda mengingatkan kami?” Atas dasar permintaan itu, AllahSwt menurunkan surat al-Hadiid ayat ke 16, yang pada intinya menegaskanbahwa telah banyak ayat al-Qur’an yang diturunkan Allah swt agar merekamenundukkan diri kepada-Nya. Ayat itu selengkapnya berbunyi:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepadamereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telahditurunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atasmereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara merekaadalah orang-orang yang fasiq.”  ( Surah al-Hadiid ayat 16, )

Menurut riwayat Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas, dan riwayat Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Mas’ud, bahwa para sahabat masihterus berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana jika Anda menceritakan sesuatukepada kami?” Atas dasar permintaan ini, maka Allah Swt menurunkan surat Yusuf ayat 3, yang menegaskan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat kisah-kisahyang baik sebagai teladan bagi kaum Muslimin.

The best story

Jika kita mempelajari surat Yusuf secara utuh, kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Ada beberapa rahasia yang perlu kita dalami ketika kita membaca surah ini.

Pertama, bahwa surat Yusuf, mulai dari ayat pertama hingga ayat terakhirmenceritakan secara utuh berbagai peristiwa yang dialami oleh Nabi Yusuf,baik ketika masih kecil, ketika remaja, maupun pada saat dewasa. Jika kisah-kisahpara nabi yang lain diceritakan oleh al-Qur’an dalam berbagai ayat yangbertebaran di mana-mana, maka kisah Yusuf ini diceritakan secara utuh dalamsatu surah.

Hebatnya lagi, surah ini termasuk panjang, memuat 111 ayat. Tidak semua Nabi dikisahkan al-Qur’an. Di antara 25 Nabi yang kisahnyabanyak diceritakan al-Qur’an antara lain Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq,Zakaria, Musa, Isa, dan Nabi Muhammad saw. Beberapa Nabi yang lain dikisahkansecara singkat dan padat. Malah ada sebagian yang hanya disebut namanya saja. Tentu saja Allah telah memilihkan beberapa kisah Nabi yang paling banyak mengandung pelajaran dan ibrah bagi kehidupan manusia yang terlahir setelah al-Qur’an diturunkan ke bumi.

Keistimewaan yang lain, bahwa ketika Allah hendak memulai bercerita tentang nabi Yusuf, Dia memulainya dengan kalimat,

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” ( Suruh Yusof ayat 3 )

Dalam penutupnya juga disampaikan hal serupa, yaitu penegasan bahwa kisah ini merupakan kisah terbaik yang pernah ada di muka bumi.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya dan menjelaskan segalasesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” ( Surah Yusuf: ayat 111 )

Kisah Nabi Yusuf diapit dua ayat yang meminta perhatian kaum muslimin. Ayat pertama memberitahukan bahwa kisah ini merupakan the best history, sedangkan ayat kedua menyampaikan bahwa di dalam kisah ini terdapat pelajaran yang sangat penting untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

Masalahnya sekarang, begitu pentingkah kisah ini sehingga Allah Swtmemberikan tekanan-tekanan yang begitu hebat?

Jika memang demikian, dimana letak rahasianya sehingga kita bisa mengambil pelajaran darinya?

Dua pertanyaan di atas menggoda kita untuk segera mengikuti kisah ini dari awal hingga akhirnya. Akan tetapi melalui tulisan ini dapat disimpulkan bahwa pada kisah Nabi Yusuf terdapat pergumulan hidup yang lazim terjadi pada setiap manusia dalam kehidupan sosialnya. Baik di lingkungan keluarga,masyarakat, maupun negara.

Dalam keluarga, Nabi Yusuf harus rela menjadi korban kekerasan saudara-saudara kandungnya sendiri justru karena dianggap sebagai rival. Disini ada persaingan antara saudara, iri hati, dendam, dan kekerasan sekaligus. Akibatnya Yusuf harus rela ditenggelamkan dalam perigi dalam suatu usaha pembunuhan berencana oleh saudara-saudaranya. Usaha pelenyapan ini semata-mata didasarkan suatu kepentingan, yaitu menghentikan kasih sayang sang ayah yang dalam pandangan mereka terlalu berpihak kepada Yusuf, si bungsu.

Setelah Yusuf selamat dari usaha pelenyapan ini, ia harus menjalani hidup keras sebagai pelayan dari satu majikan ke majikan yang lain. Karena keterampilan, keramahan, ditambah dengan wajahnya yang tampan, Yusuf tidak sekadar menjadi pelayan biasa, tapi pelayan yang istimewa. Terlebih ketikaia berada di lingkungan istana. Walaupun statusnya sebagai pelayan, tapi ketampanan wajahnya membuat para wanita tergila-gila kepadanya. Salah satu wanita yang tergila-gila tersebut adalah permaisuri menteri raja.

Zulaikha yang cantik selalu berusaha menggoda Yusuf dengan berbagaicara, sampai pada suatu hari, ketika Yusuf berada di suatu bilik sendirian, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Zulaikha. Apalagi setelah mengetahui bahwa si cantik itu mengunci pintu bilik. Sebagai lelaki normal, Yusuf tertarik juga pada penampilan Zulaikha yang cantik, anggun, dan tampak berkepribadian.

Ketika dipaksa melayani Zulaikha, hati Yusuf juga terbakar asmara. Hanya karena pertolongan Allah saja sehingga ia tidak melakukannya. Tentang getaran hati Yusuf itu Allahmenyebutnya dalam al-Qur’an:

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari Tuhannya). Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itutermasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Surah Yusuf: 24)

Karena peristiwa ini, Yusuf harus rela dikorbankan. Meskipun berbagai bukti telah menujukkan bahwa Yusuf tidak bersalah dalam kis ini, tetapi ia harus rela dipenjarakan. Nampaknya sejak dahulu kala, penjara bukanhanya tempat bagi orang yang bersalah, tapi juga tempat orang-orang yang dipersalahkan hanya karena memegang prinsip kebenaran itu sendiri. Yusuf adalah contohnya. Sejak dahulu kala, status sosial bisa mempengaruhi sebuah keputusan pengadilan.

Ketika Yusuf menolak perintah majikannya, yaitu melayani keinginan nafsu syahwatnya, berarti ia telah memilih alternatif kedua, yaitu hukuman. Dalam hal ini penjara telah menantikan kehadirannya. Akan tetapi Yusuf tampaknyalebih menyukai penjara daripada menuruti nafsu bejat wanita tersebut. Karenanya,Yusuf berdoa kepada Allah:

“Yusuf berkata, `Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripadamemenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung (untuk memenuhi keinginan mereka)dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” ( Surah Yusuf: 33 )

Bagi orang sekualitas Yusuf, penjara bukan tempat untuk menyerahkan nasib. Penjara adalah istana tempat untuk berkontemplasi, menjalin hubungan intim dengan kekasih yang Maha kasih, yaitu Rabbul `Izzati. Di penjara ini ibadahnya semakin mantap, di samping kegiatan dakwahnya yang tidak terhenti. Kepada sesama pendakwah, Nabi Yusuf memberikan pelajaran dan dakwah Islam. Tak sedikit yang kemudian menjadi pengikut setianya. Yang baik akan tampak, yang buruk juga akan terbukti.

Siapa yang salah dan siapa pula yang benar, akhirnya sejarah membuktikan. Sejarah akan selalu berpihak kepada yang benar, walaupun kelihatannya kebenaran selalu dikalahkan.Nabi Yusuf terbukti bersih dari segala tuduhan dan akhirnya dibebaskan.Pembebasan ini sekaligus membersihkan namanya, yang sesungguhnya tak pernah tercemar. Tak hanya itu, Yusuf langsung diangkat sebagai menteri yang memiliki kekuasaan sangat besar. Tentang hal ini Allah Swt mengungkapkannya:

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang kami kehendaki dankami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” ( Surah Yusuf:56 )

Alangkah banyaknya tokoh yang sebelum sampai di puncak kekuasaannyaterlebih dahulu harus melewati masa-masa kritis sebagaimana yang dialamioleh Nabi Yusuf. Hanya orang-orang bodoh saja yang menyia-nyiakan kesempatanketika di penjara. Penjara bukan akhir dari segala-galanya. Suatu saatAllah membalikkan keadaan.

Yang semula di penjara bisa jadi tinggal diistana. Sebaliknya, yang asalnya di istanaterpaksa harus betah di penjara.Inilah isi dunia. Pergumulan hidup selalu melingkar pada tiga hal, yaitu kriminalitas,seksual, dan perang atau kekuasaan. Itulah yang selalu menarik dan menjadi perhatian seluruh manusia. Filem menjadi laris, televisin banyak diminati rakyat, dan radio digemari karena selalu mengemasi ketiga berita di atas. Dan itu semua telah diceritakan Allah dalam al-Qur’an dengan mengambil kisah Nabi Yusuf.

Crime, sex, and war merupakan tema sentral dari seluruh rangkaian kehidupan manusia. Membaca kisah Yusuf sama saja denganmembaca situasi dan kondisi dunia, dulu, kini, dan nanti.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 21 Disember 2008 in TAFSIR QURAAN

 

Al A’laa : 14-19 – Berbahagialah Orang Yang Mensucikan Diri

Berbahagialah Orang Yang Mensucikan Diri

quranSungguh bahagia orang yang mensucikan dirinya, lalu mengingat Tuhannya dan memujaNya.Tetapi kalian mengutamakan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya (keterangan-keterangan yang dinyatakan) ini ada (disebutkan) di dalam Kitab-kitab yang terdahulu, Iaitu Kitab-kitab Nabi Ibrahim dan Nabi Musa..

(Q Surah . Al A’laa : 14-19 )

Kita berfikir dan bekerja keras mensucikan kehormatan kita dari maksiat, dosa dan kefasikan. Dan pada penghujung bulan Zulhijjah kita bersihkan harta kita dari barang haram dan syubhat. Kita korban kan harta kita dengan memenuhi pangilaln ilahi menunaikan fardu Haji atau menyembelih Qurban dan membahagikan dagingnya. Berkorban adalah proses pembersihan diri (tazkiyyatun nafs).

Tazkiyatun Nafs

Konon bangsa Arab adalah bangsa yang kotor. Kepercayaan kepada Allah telah terkontaminasi oleh pemujaan terhadap berhala dan benda-benda alam. Ekonomi masyarakat telah dicemari dengan penindasan yang kuat terhadap yang lemah, kesewenang-wenangan yang kaya terhadap yang miskin, keserakahan yang berada (the have) kepada yang melarat. Kebudayaan mereka dikotori dengan kerendahan akhlaq, penindasan dan penghinaan terhadap kaum hawa, perbudakan sesama manusia dan pemujaan hawa nafsu. Hukum yang berlaku adalah hukum rimba, yang kuat selalu benar, yang lemah selalu salah. Agama mereka adalah agama yang kaya dengan upacara serimonial, tetapi miskin pengamalan.

Kemudian Allah membangkitkan Muhammad Saw.

Ia sendiri gelar dari ummatnya Al-Amin (dapat dipercaya). Ia lahir dari lingkungan keluarga yang shaleh, pengurus, pemelihara dan penjaga Baitullah yang suci. Kepada masyarakat jahiliyah dikenalkan kehidupan yang suci. Ia menyeru bangsanya untuk mengingat kembali asma Allah dan memujanya. Rasulullah mengingatkan,kehidupan mereka tercemar akibat mengutamakan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal. Ia menyatakan dirinya sebagai pejuang-pejuang kemanusiaan sepanjang sejarah, pelanjut Nabi-Nabi terdahulu.

“Dia lah yang telah mengutuskan dalam kalangan orang-orang (Arab) yang Ummiyyin, seorang Rasul (Nabi Muhammad s.a.w) dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaanNya), dan membersihkan mereka (dari iktiqad yang sesat), serta mengajarkan mereka Kitab Allah (Al-Quran) dan Hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum syarak). Dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata..” (Q Surah . Al Jumuah : 2)

Sedikit demi sedikit berubahlah bangsa Arab. Mereka lebih memilih kehidupan yang suci sekalipun bersimbah darah dan kehilangan nyawa. Sumayyah bersama suaminya Yasir, dan anaknya Ammar bersama-sama membersihkan aqidah mereka dari kemusyrikan. Sumayyah, wanita yang tua renta itu dianiaya, dipukuli, dipanaskan di tengah padang pasir yang membakar.

Ia bertahan mempertahankan kesucian dan pantang mengucapkan kalimat kufur. Rasulullah melihat derita Sumayyah dan mengizinkan untuk mengucapkan kalimat kufur, asal hati tetap beriman. Sumayyah menjawab : Sampaikan salamku pada Rasulullah. Sesungguhnya Sumayyah yang telah Allah sucikan hatinya dengan iman, tidak akan sanggup mengotori lidahnya dengan kata-kata kufur.

Abu Jahal berang dan marah, ia menusukkan tombaknya ke rahim Sumayyah. Ia meninggal karena kehabisan darah. Dan jadilah Sumayyah Shahabiyat yang pertama kali syahid dalam islam. Inilah tazkiyatun nafs, penyucian diri.

Tazkiyatul Farj

Buraidah dalam kitab Taysir al-Wushul 2 : 7-8 dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan Abu Dawud menceritakan peristiwa lain.

Seorang wanita datang menemui Rasulullah Saw. Ya Rasulullah, aku telah berzinah, sucikanlah diriku. Ia meminta Rasulullah menghukumnya dengan hukuman rajam. Rasulullah menolaknya dan menyuruhnya datang keesokan harinya. Esoknya ia datang kembali lagi, meyakinkan Rasulullah bahwa ia telah hamil. Pulanglah, kata Rasulullah, sampai engkau melahirkan anakmu. Setelah melahirkan ia datang kembali dengan membawa bayi merah yang dibungkus kain. Rasul yang mulia menolaknya, pulanglah, susukan anakmu sampai engkau sapih.

Setelah sekian lama, ia datang lagi dengan bayi dan sekerat roti. Ini Ya Nabi Allah, sudah aku sapih, dan ia sudah makan makanan. Nabi Saw. Menyuruh seorang sahabat melawat anak wanita itu. Ia menetapkan hukuman rajam. Ketika darahnya membersit dan mengenai wajah Khalid, Khalid memaki wanita itu.

Rasulullah saw. murka : celaka kau Khalid. Demi zat yang diriku ada di tangan-Nya. Wanita ini telah bertaubat dengan sesuatu taubat nasuhah sehingga kalau ada pendosa besar bertaubat dengan taubatnya Allah akan mengampuni dosanya. Wanita suku Ghamidiyah ini tidak sanggup hidup memikul dosa. Ia memilih menyucikan dirinya dengan hukum islam. Ia memilih taubat. Inilah tazkiyatul farj, penyucian kehormatan, penyucian moral.

Tazkiyatul Mal

Tengoklah wanita dari ahlul bait (keluarga Nabi) Fatimah yang suci. Ketika Al Hasan dan Al Husain jatuh sakit, Fatimah dan suaminya bernazar untuk puasa tiga hari. Pada saat melaksanakan nazarnya, mengertilah Fatimah bahwa di rumah tidak ada makanan untuk berbuka. Ali suaminya mengambil bulu domba dari seorang Yahudi untuk dipintal dengan upah tiga sha’ gandum.

Hari pertama Fatimah menyelesaikan sepertiga pekerjaan, dan ia memperoleh satu sha’ gandum. Ia memaksanya dan membuat lima potong roti. Tepat ketika mau berbuka, seorang miskin berdiri di pintu rumah, Wahai keluarga Muhammad, aku ini orang islam yang miskin. Berilah makanan padaku, semoga Allah menjamu kalian dengan hidangan surga. Fatimah menyerahkan seluruh makanan dan menghabiskan malam dalam keadaan lapar.

Pada hari kedua dan ketiga terjadi peristiwa yang sama. Hanya kali ini yang muncul meminta tolong adalah tawanan Muslimin dan anak yatim. Ketika Ali membawa Al Hasan dan Al Husain menemui Rasulullah saw. Nabi yang suci dan mulia melihat kedua cucunya gemetar karena lapar, laksana dua ekor burung kecil yang kedinginan. Hai Abul Hasan, kata Rasulullah saw, aku sedih sekali melihat kalian. Marilah kita temui Fatimah di mihrabnya. Matanya sudah cekung. Nabi segera memeluk putrinya, Ya Allah tolonglah keluarga Muhammad yang hampir kelaparan ini.

Waktu itu turunlah Quran surat Al Insan : 5-12.

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (dengan taat dan kebajikan), akan meminum dari piala: sejenis minuman yang bercampur dengan “Kafur”, – Iaitu sebuah matair (di Syurga), yang diminum daripadanya oleh hamba-hamba Allah (yang taat); mereka boleh mengalirkannya (di tempat-tempat tinggal mereka) dengan aliran yang semudah-mudahnya dan menurut kemahuannya. – (Mereka dikurniakan kesenangan itu kerana) mereka menyempurnakan nazarnya (apatah lagi yang diwajibkan Tuhan kepadanya), serta mereka takutkan hari (akhirat) yang azab seksanya merebak di sana sini. – Mereka juga memberi makan benda-benda makanan yang dihajati dan disukainya, kepada orang miskin dan anak yatim serta orang tawanan, ( Quran surah Al Insan : 5-8. )

(Sambil berkata dengan lidah atau dengan hati): “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu kerana Allah semata-mata; kami tidak berkehendakkan sebarang balasan dari kamu atau ucapan terima kasih, – “Kami sebenarnya takutkan Tuhan kami, takut Ia kenakan kami azab hari yang padanya muka orang-orang yang bersalah: masam berkerut-kerut”. – Dengan sebab (mereka menjaga diri dari kesalahan), maka Allah selamatkan mereka dari kesengsaraan hari yang demikian keadaannya, serta memberikan kepada mereka keindahan yang berseri-seri (di muka), dan perasaan ria gembira (di hati). – Dan kerana kesabaran mereka (mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya), mereka dibalas oleh Allah dengan Syurga dan (persalinan dari) sutera. ( Quran surah Al Insan : 9-12. )

Inilah tazkiyatul mal, penyucian harta.

Harta diperoleh dengan kerja keras yang halal. Tetapi betapapun senangnya ia memiliki harta itu, ia menginfakkannya buat mereka yang memerlukan, mereka yang menderita, yang melarat dan sengsara. Demi kesucian harta, mereka tidak sanggup makan dengan lezat, di tengah penderitaan, tangisan orang lain.

Tazkiyatus Sulthan

Orang Islam tidak dilarang berkuasa.

Bahkan bumi dan seisinya ini diwariskan oleh Allah untuk hamba-Nya yang shalih. Yang dilarang adalah mengotori kekuasaan dengan kepentingan pribadi, kepentingan keluarga, atau kepentingan golongan. Menyucikan kekuasaan berarti mengutamakan kepentingan masyarakat secara keseluruhan sesuai dengan petunjuk Allah. Salah satu fungsi penguasa muslim adalah sebagai imam. Imam berasal dari kata umm. Umm adalah sesuatu yang dijadikan tumpuhan harapan dan di tuju.

Dari umm ini lahir kata ummat. Dari akar kata tersebut sesungguhnya melukiskan fungsi kepemimpinan Islam adalah sosok yang diharapkan menjadi teladan dan memihak kepentingan ummat (masyarakat)..

Marilah kita melihat seorang penguasa yang dibesarkan dalam keluarga Nabi saw, yaitu Ali bin Abi Thalib. Ketika ia menjabat sebagai khalifah, ia membagikan harta Baitul Mal kepada yang berhak. Pernah saudaranya yang bernama Aqil meminta lebih dari haknya karena anak-anaknya yang sedang menderita. Kata Ali, Datanglah nanti malam, engkau akan kuberi sesuatu.

Malam itu Aqil datang. Lalu Ali berkata, Hanya ini saja untukmu. Aqil segera menjulurkan tangannya untuk memegang pemberian Ali. Tiba-tiba ia menjerit, meraung seperti sapi yang dibantai. Rupanya ia memegang besi yang menyala. Dengan tenang Ali berkata, itu besi yang dibakar api didunia. Bagaimana kelak aku dan engkau dibelenggu dengan rantai jahannam.

Pada peristiwa lain ketika Aqil mendesak Ali untuk mengambil harta Negara buat keperluannya, Ali memerintahkan pembantunya, Bawa dia pergi ke toko-toko dan mengambil barang-barangnya.

Khalifah Umar bin Khathab juga pernah mematikan listrik di kantor dinasnya, hanya karena khawatir menggunakan harta negara ketika datang salah seorang keluarganya. Pada peristiwa lain, ketika istrinya kembali dari lawatan bersamanya ke Persia dan Romawi dan memperoleh bermacam-macam hadiah dari permaisuri raja, wajar isteri khalifah kedua itu ingin memiliki hadiah itu.

Tetapi berkat kewara’an Umar, ia menolak hadiah tersebut dan menyerahkannya ke Baitul Mal. Ia mengatakan kepada istrinya, sekiranya engkau bukan istri khalifah, tidak mungkin engkau memperoleh hadiah yang berharga itu.

Inilah tazkiyatus sulthan, penyucian kekuasaan dari pencemaran kepentingan-kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, dan golongan. Kedua khalifah diatas memilih hidup sangat sederhana daripada memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri dan memperoleh hak-hak istimewa.

Muhasabah

Kita harus berani untuk mengadakan muhasabatun nafs (intropeksi diri), apa yang akan dan sudah kita lakukan untuk mewujudkan latihan (mujahadah) kesucian.

Sumayyah memilih ditusuk tombak daripada mengotori lidahnya dengan kalimat kufur. Periksalah lidah kita, tidakkah kita dengan mudah mengobral makian, menyebarkan fitnah, menggunjing kejelekan orang lain, menyakiti perasaan sesama, mengkafirkan yang tidak sefaham dengan kita.

Periksa hati kita, tidakkah kita sering memelihara sifat dengki, takabur, iri hati, berburuk sangka. Periksa hidup kita, bukankah kita seringkali mendahulukan kepentingan dunia, kemewahan hidup, sekalipun dengan mencemari kehormatan kita.

Keluarga nabi dan para sahabatnya memilih lapar daripada membiarkan orang lain lapar, demi kesucian dirinya. Tetapi kita cemari harta kita dengan merampas hak orang lain, menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang, dengan mengorbankan kepentingan orang banyak.

Sudah saatnya kita bertaubat seperti wanita Ghamidiyah. Kita berlatih untuk menghapuskan kesalahan-kesalahan yang lampau dengan merintis jalan kesucian di masa yang akan datang. Kita kembali, bertaubat dan berserah diri kepada Allah.·

 
Tinggalkan komen

Posted by di 14 Disember 2008 in TAFSIR QURAAN

 

Fitnah apa maksudnya?

Terdapat dua ayat Al-Quran berkaitan dengan fitnah yang selalu disebut tanpa mengetahui maksud sebenar kehendak ayat iaitu:

Fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” (Al-Baqarah : 191)

“Dan berbuat fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (Al-Baqarah : 217)

MARI KITA FAHAM DENGAN MELIHAT NOTA KAKI AYAT-AYAT TERSEBUT

Perhatian : Semua nota kaki di ambil dari Al-Quran dan Terjemahnya. Departemen Agama Republik Indonesia, di cetak pada 1415 Hijrah di Kompleks Percetakan Al-Quran Malik Fahd di Madinah Munawwarah.

Lihat nota kaki no:117 bagi ayat (Al-Quran, Al-Baqarah : 191) : Fitnah (menimbulkan kekacauan) seperti mengusir sahabat (Nabi) dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.

Lihat nota kaki no:135 bagi ayat (Al-Quran, Al-Baqarah : 217) : Fitnah disini ertinya penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan Muslimin.

JUGA LIHAT NOTA KAKI BERIKUT

Sila lihat juga nota kaki no:1569 bagi ayat (Al-Quran, Al Buruj : 10) : Kalimah fatanu (fitnah) di dalam ayat ini (Al-Quran, Al-Buruj : 10) diterjemahkan sebagai mendatangkan cubaan. Yang dimaksudkan ‘mendatangkan cubaan’ ialah seperti menyiksa, mendatangkan bencana, membunuhnya dan sebagainya.

INGATLAH

Wahai pemimpin atau penguasa (siapa saja) dan jenteranya yang melaksanakan rancangan (apa bentuk pun dan dimana saja) untuk menindas Islam dan menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh Muslimin dan sebagainya berhati-hatilah

KERANA TELAH DIPERINGATKAN:

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cubaan kepada orang-orang mukmin lelaki dan perempuan kemudian mereka bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (Al-Quran, Al-Buruj : 10)

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan kerana orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.  (Al-Quran, Al-Buruj : 8)

INGATLAH SENTIASA:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka syurga yang mengalir di bawah nya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. (Al-Quran, AlBuruj : 11)

JOM KITA TOLONG MENANGKAN AGAMA ALLAH

Semua kita tanpa kecuali sama ada yang miskin atau kaya, sakit atau sihat, penguasa atau kakitangan atau jentera merancang dan/atau melaksanakan atau menjayakan rancangan jahat dalam berbagai cara dan berbagai peringkat mengikut kedudukan, keupayaan, kecerdikan, atau fizikal untuk menindas Islam dan menyiksa, mendatangkan bencana, membunuh Muslimin dan sebagainya hujungnya akan kembali, mahu tidak mahu, kepada Allah Tuhan Sekelian Alam untuk di soal dan pertanggungjawabkan terhadap perbuatan kita sewaktu hidup ini. Beruntunglah kita selama-lamanya sekiranya kita telah menggunakanlah kuasa sementara yang ada pada kita untuk menolong memenangkan agama Allah.

Rujukan

Al-Quran dan Terjemahnya. Departemen Agama Republik Indonesia, di cetak pada 1415 Hijrah di Kompleks Percetakan Al-Quran Malik Fahd di Madinah Munawwarah.

Ahmad Sonhadji Mohamad. 1991. Tafsir Al-Quran ‘Abrul Athir. Cetakan Ketiga. Kuala Lumpur : Pustaka Al-Mizan.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 12 Disember 2008 in TAFSIR QURAAN

 

Sistem Ekonomi Islam (3) – Tafsir Fi Zhilal Al-Quran

Sekarang kita telaah nash (teks) Al-Qur’an secara rinci dalam pelajaran ini :

Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (261)

Sesungguhnya undang-undang (peraturan) ini tidak dimulai dengan kewajiban (Fardhu) dan beban (taklif). Akan tetapi dimulai dengan motivasi dan menyatukan hati. Dengan demikian dapat membangkitkan semangat dan persaaan yang hidup dalam segenap diri masnusia. Sesungguhnya ia juga dapat menampilkan gambaran kehidupan yang bergerak, berkembang dan memberi. Itulah gambaran pohon (tumbuhan. Sebuah pemberian bumi yang bersal dari Allah. Pohon yang memberi berlipat ganda dari apa yang dia ambil. Dia memberikan nilai yang termahal dari dirinya dengan berlipatganda jika dibanding dengan nilai bibit/benihnya.

Gambaran yang menginspirasikan ini memberikan perumpamaan bagi orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah. Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji.

Sesungguhnya makna yang dapat ditangkap akal dari ungkapan tersebut berakhir pada aktivitas berhitung secara matematis yang satu biji berlipat ganda menjadi 700 biji. Adapun pemandangan yang hidup yang ditampilkan ungkapan tersebut jauh lebih luas dan lebih indah serta lebih membangkitkan perasaan dan lebih berpengaruh pada hati. Itulah pemandangan yang hidup dan berkembang. Pemandangan alami yang hidup. Sebuah pemandangan tanaman yang menghasilkan. Kemudian pemandangan yang ajaib dalam dunia tumbuh-tumbuhan. Sepohon kayu yang memiliki tujuh cabang dan setiap cabang memiliki buah 100 biji.

Dalam kafilah kehidupan yang berkembang dan memberi, mampu mengarahkan hati manusia untuk mencurahkan dan memberikan apa yang dia miliki. Pada hakikatnya tidak memberi, tapi menerima dan tidak berkurang, tapi bertambah. Gelombang memberi dan tumbuh itu melaju dalam perjalanannya. Gelombang itu mampu melipatgandakan perasaan yang dibangkitkan oleh pemandangan pohon/tanaman dan hasilnya. Sesungguhnya Allah melipatgandakan bagi orang yng dikehendakinya. Dia melipatgandakan tampa hitungan dan perkiraan. Dia melipatgandakan orang yang diberi-Nya rezki yang siapapun tidak dapat mengetahui batasnya.

Di antara kasih sayang-Nya yang dicurahkan, seseorang tidak akan mengetahui keluasannya. { والله واسع عليم } : Kata ‘wasi’ : tidak akan pernah sempit pemberiannya, tidak terbatas dan tidak habis. Kata ‘’Alim’ : Mengetahui bibit/benih dan mengokohkannya dan tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

Akan tetapi, infak yang mana yang tumbuh dan berkembang itu? Pemberian yang mana yang dilipatgandakan Allah di dunia dan Akhirat bagi orang yang dikehendaki-Nya itu? Itulah infak yang mampu menghormati perasaan kemanusiaan dan tidak mengotorinya. Infak yang tidak menyakiti kemuliaan dan tidak melukai perasaan. Infak yang lahir dari kesenangan dan kebersihan jiwa dan berorientasi hanya kepada Allah seraya mencari ridha-Nya.

Orang-orang yang menginfak-kan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang diinfak-kannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(262)

Cercaan (menyebut-nyebut pemberian) itu unsur kebencian tercela dan perasaan redahan. Jiwa manusia pada dasarnya tidak menyebut-nyebut apa yang dia berikan kecuali ada keingingan merasa lebih tinggi dan kebohongan, atau keinginan untuk meremehkan yang menerimanya, atau keinginan untuk memancing perhatian orang lain. Saat itu, orientasinya bukan lagi kepada Allah, melainkan kepada manusia.

Semua prilaku itu itidak akan bersemi dalam diri yang baik dan tidak akan terlintas dalam hati seorang Mukmin. Karena menyebut-nyebut itu menggantikan sedekah menajadi rasa sakit bagi yang menerima dan yang memberi. Rasa sakit bagi sipemberi karena membangkitlkan dalam dirinya rsa sombong dan ketinggian dengan keinginan melihat saudaranya rendah dan bertekuk lutut padanya. Sebagaimana juga akan memenuhi hatinya dengan nifaq (ambivalence), riyak dan jauh dari Allah. Sakit bagi yang menerima karena menimbulkan ras rendah diri dan kekalahan dalam dirinya yang berakibat lahirnya rasa iri hati dan balas dendam….

Islam sama sekali tidak menginginkan infak itu hanya sekedar menutupi kekosongan, mengisi perut dan sekedar memenuhi kebutuhan. Bukan itu…. Sesungguhnya yang diinginkan Islam (dari sistem ekonomi ini), adalah edukasi, penyucian dan pembersihan jiwa yang memberi, melahirkan perasaan kemanusiaan, hubungan persaudaraan dengan saudaranya yang miskin seagama dan sesame manusia, dan peringatan baginya akan nikmat Allah serta janjinya dengan Allah tentang nikmat itu bahwa dia akan memakannya tanpa berlebihan dan tanpa menghambur-hamburkannya serta untuk diinfakkan di jalan Allah, tanpa harus kikir dan tidak pula melakukan cercaan.

Demikian pula, Islam menginginkan kerelaan dan ketenagan bagi jiwa sipenerima, penguat hubungan dengan saudaranya seagama dan sesama msnusia, sebagai penutup bagi ketimpangan Jamaah (kumunitas) suapay tegak di atas dasar takaful (saling menopang) dan ta’awun (saling menolong) yang mengingatkannya akan kesatuan bangunan, kesatuan hidup, kesatuan orientasi dan kesatuan beban. Sedang cercaan itu akan menghapus semua makna tersebut dan akan menempatkan infak itu menjadi racun dan api. Dia merupakan kesakitan kendati tidak diiringi dengan kesakitan lain dari tangan dan lidah. Dia adalah kesakitan itu sendiri yang akan menghapuskan nilai infak, mencabik-cabik masyarakat dan memancing lahirnya rasa kebencian dan hasad.

Sebagian peneliti kejiawaan saat ini menetapkan bahwa impact alami dalam jiwa manusia bagi suatu kebaikan (yang dia terima dari orang lain) pada suatu hari akan menjadi permusuhan. Mereka berdalih bahwa sipenerima merasakan kekurangan dan kelemahan di hadapa sipemberi. Perasaan ini akan selalu bergelora dalam dirinya. Sebab itu, ia akan mencoba mengatasinya dengan menyerang yang memberinya dan menyembunyikan permusuhan. Karena dia selalu merasa lemah dan keurang di hadapan sipemberi tadi. Demikian juga sipemberi selalu mersakan bahwa dialah yang berjasa atas orang yang diberinya itu. Inilah perasaan yang menambah rasa sakit bagi sipenerima sehingga berubah menjadi permusuhan.

Teori tersebut bisa saja benar dalam masyarakat jahiliyah, di mana masyarakat yang tidak diliputi oleh spirit Islam dan tidak berhukum pada Islam. Adapun agama ini (Islam) telah mengobati masalah tersebut dengan cara lain. Islam mengobatainya dalam jiwa manusia dengan sebuah ketetapan bahwa harta itu adalah milik Allah. Rezki yang ada di tangan mereka adalah rezki dari Allah. Ini adalah hakikat yang tidak dibantah kecuali oleh orang yang bodoh terhadap sebab-sebab rezki yang jauh maupun yang dekat.

Semuanya pemberian Allah di mana manusia tidak kuasa sedikitpun atasnya. Satu biji gandum telah tertlibat dalam pengadaannya berbagai kekuatan dan energy alam dari matahari sampai bumi, air dan udara. Semua itu tidak berada dalam kemampuan manusia. Coba kiaskan satu biji gandung dengan titik air, serabutnya, dan segala sesuatu yang ada.

Bila sipemberi itu sesuatu dari hartanya, maka sesungguhnya dian memberikan harta Allah yang diangrakan padanya. Bila meminjamkan sejumlah hartanya, berarti ia memberikan pinjaman pada Allah yang akan dilipatgandakan baginya. Tidalah orang yang belum beruntung itu kecuali alat dan sebab bagi yang memberi untuk meraih pemeberiaan harta Allah berlipatganda. Kemudian, Al-Qur’an masuk menejelaskan adab (tata cara infak) yang sedang kita bahas sekarang, sebagai penguat bagi pengertian ini dalam jiwa sehingga sipemberi tidak merasa tinggi dan tidak menghinakan yang menerima.

Setiap dari keduanya sama-sama makan dari rezki Allah. Bagi para pemeberi akan mendapat ganjaran dari Allah jika mereka memberi dari harta Alllah dan di jalan Allah seraya berpegang teguh pada adab yang telah digariskan-Nya pada mereka dan terikat denga janji yang dijanjiakan Allah pada merka :

{ ولا خوف عليهم } Mereka tidak takut dari kefakiran, dengki dan tipu daya dan tik pula mereka bersedih { ولا هم يحزنون } . atas apa yang mereka infakkan di dunia dan tidak pula sedih menghadapi tempat kembali mereka di akhirat nanti.

 
Tinggalkan komen

Posted by di 5 Disember 2008 in SINAR JUMAAT, TAFSIR QURAAN